Tuesday, August 16, 2022
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeInterior DesignMengenal Hunian Berkonsep Cohousing yang Terjangkau dan Sosialitas

Mengenal Hunian Berkonsep Cohousing yang Terjangkau dan Sosialitas

Ruang tinggal telah menjadi kebutuhan dasar manusia yang selayaknya dipenuhi. Sekarang ini, keinginan sebagian besar masyarakat urban untuk memiliki rumah idaman terhalang oleh permasalahan keterbatasan lahan dan harga pasar yang melejit naik setiap tahunnya. Maka tak heran, jika sejumlah konsep hunian alternatif mulai menarik perhatian banyak orang.

Cohousing yang merupakan kepanjangan dari collaborative housing atau community housing telah lama berkembang sebagai konsep hunian alternatif di Eropa sejak 1960. Seiring munculnya krisis kepemilikan rumah, konsep hunian bersama ini mulai banyak diadopsi di Inggris dan Amerika Serikat.

Bangunan cohousing berwarna coklat dan merahpinterest.com

Tak terbatas untuk pengantin baru atau kalangan milenial saja, cohousing juga efektif memperkuat interaksi sosial kaum lanjut usia. Sampai 2017 lalu Cohousing Association of America mencatat bahwa terdapat lebih dari 160 komunitas cohousing yang tersebar di 25 negara bagian.

Cohousing berawal dari masyarakat Denmark yang  berkeinginan membangun lingkungan tinggal yang dekat dengan komunitas. Hal ini berkaitan dengan pola interaksi yang lebih berkelompok dan saling gotong royong. Konsep berbagi hunian seperti ini dipercaya membuat masyarakat merasa lebih aman dan bahagia karena rasa kebersamaan yang kuat.

Lingkungan hunian cohousing di Amerikaarchdaily.com

Kathryn McCamant dan Charles Durret dalam buku Creating Cohousing: Building Sustainable Communities memaparkan bahwa konsep cohousing biasanya diorganisasi oleh sekelompok orang yang memiliki kesamaan cita-cita mengenai konsep ruang tinggal ideal.

Mereka bisa membangun rumah atau perumahan sesuai dengan kebutuhan dan selera yang sama, dari mulai tahap perencanaan sampai pembangunan rumah dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama.

Konsep “patungan” membangun rumah seperti ini mungkin relatif baru di Indonesia, namun dapat menjadi solusi atas harga rumah yang menggelembung tinggi. Tanpa adanya campur tangan pengembang, biaya pembangunan rumah pun dapat ditentukan sendiri. Kala terhambat oleh mahalnya harga material bangunan, karena dikerjakan secara kolaborasi tentunya akan lebih meringankan.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments