Tuesday, December 7, 2021
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeVisual DesignSang Pembaru Seni Lukis Indonesia, Raden Saleh

Sang Pembaru Seni Lukis Indonesia, Raden Saleh

Raden Saleh adalah seniman yang dikenal sebagai pelopor seni rupa modern Indonesia, karya-karyanya bernilai tinggi dan telah dikenal luas oleh masyarakat dunia. Karena kemahirannya dalam melukis menggunakan teknik Barat (modern untuk masyarakat Nusantara), Tokoh penting Seni rupa Indonesia ini juga disebut sebagai Sang Pembaru.

Biografi Raden Saleh

Raden Saleh lahir dengan nama lengkap Raden Saleh Sjarif Bestaman di tahun 1807, tanggal lahir dan bulannya tidak diketahui. Lahir di Terboyo, dekat Semarang, Jawa Tengah dari Rahim  Mas Adjeng Zarip. Saat baru berusia sepuluh tahun, Raden Saleh diserahkan kepada pamannya yang menjabat sebagai Bupati Semarang, ketika Indonesia masih dikolonialisasi oleh Belanda (Hindia Belanda).

Raden Saleh sudah gemar menggambar dari sejak kecil. Bakatnya di bidang seni sudah mulai menonjol saat Saleh kecil bersekolah di sekolah rakyat (Volks-School). Tak jarang di kala gurunya sedang mengajar, ia malah asyik menggambar. Meskipun begitu, sang guru tak pernah marah, karena kagum melihat hasil karya muridnya.

Karya-Karya Penting Raden Saleh

Raden Saleh menghasilkan banyak sekali karya yang memuat pelbagai tema dan subjek. Teknik lukisnya banyak dipengaruhi oleh seniman-seniman Barat. Meskipun demikian Ia tidak lantas lupa pada tanah airnya sendiri. Hal tersebut dapat dilihat pada lukisan Penangkapan Diponegoro hasil karyanya.

Penangkapan Diponegoro (1857)

Penangkapan Pangeran Diponegoro. Oleh Raden Saleh
Penangkapan Pangeran Diponegoro. Oleh Raden Saleh
Deskripsi, Analisis dan Penafsiran Penangkapan Diponegoro

Pangeran Diponegoro dan pengikutnya tampak tidak membawa senjata pada lukisan ini. Keris di pinggang, ciri khas Diponegoro, pun tak ada. Tampaknya Raden Saleh ingin menunjukkan, peristiwa itu terjadi di bulan Ramadhan. Meskipun Saleh tidak sedang berada di Hindia Belanda pada peristiwa itu, ketika pulang ia langsung mencari pelbagai informasi mengenai berita penangkapan tersebut. Pangeran Diponegoro dan pengikutnya datang untuk berunding, namun gagal.

Diponegoro ditangkap dengan mudah karena jenderal De Kock tahu bahwa musuhnya sedang tidak siap untuk berperang di bulan Ramadhan. Meskipun tampak tegang, Pangeran Diponegoro tetap digambarkan berdiri dalam pose siaga. Wajahnya yang bergaris keras tampak menahan emosi, tangan kirinya menggenggam tasbih yang mungkin ingin menunjukan Beliau tetap bersabar dan tidak lupa pada yang Maha Kuasa ketika musibah menimpanya.

Dalam lukisan itu tampak Raden Saleh menggambarkan sosok yang mirip dengan dirinya sendiri. Sosok itu menunjukan sikap empati menyaksikan suasana tragis itu bersama pengikut Pangeran Diponegoro yang lain. Jenderal De Kock pun kelihatan tampak sangat segan dan menaruh hormat saat menangkap Pangeran Diponegoro menuju ke tempat pembuangan.

Perburuan Banteng (1855)

Perburuan Banteng. oleh Raden Saleh
Perburuan Banteng. oleh Raden Saleh
Deskripsi, Analisis dan Penafsiran Perburuan Banteng

Pada lukisan ini tampak segerombolan manusia yang sedang memburu banteng. Mereka semua tampak beringas, menunjukan emosi yang siap untuk membunuh banteng yang berusaha untuk melawan. Tampak perlawanan banteng tersebut berhasil menjatuhkan salah satu pemburu yang berusaha menangkapnya.

Terdapat ciri paradoks dari Romantisisme disini, manusia seolah diputarbalikan menjadi mahluk yang buas (seperti hewan) yang berburu mangsanya. Padahal banteng bukanlah hewan yang lazim diburu di nusantara. Tidak ada budaya untuk memakan santapan daging banteng di Hindia Belanda, latar belakang Raden Saleh pada saat menciptakan karya ini.

Hewan yang dipertemukan dengan sifat agresif manusia ini tampak secara tidak langsung menyindir nafsu manusia yang terus mengusik mahluk lain. Padahal predator alami sendiri biasanya tidak berani untuk memburu banteng. Tapi manusia dengan nafsu yang tidak terbatas berani dan bahkan berhasil menaklukan hewan yang raja rimba saja tidak berani menyentuhnya. Singa berburu agar dapat bertahan hidup, berburu adalah satu-satunya sumber makanan baginya. Sementara manusia? Sebetulnya apa yang diburu dalam perburuan banteng itu?

Die Lowenjagd / Perburuan Singa (1839)

Perburuan Singa. oleh Raden Saleh
Perburuan Singa. oleh Raden Saleh
Deskripsi, Analisis dan Penafsiran Perburuan Banteng

Tampak segerombolan pemburu yang beretnis Timur Tengah (Arab) sedang berusaha untuk memburu Singa. Latar perburuan di gurun padang pasir yang sepertinya bukan habitat asli dari Singa. Singa memang hidup di savanna afrika, namun bukan di padang pasir timur tengah. Padahal Raden Saleh pernah berkunjung ke timur tengah dan pastinya mengetahui fakta ini. Perburuan singa yang berlatar di timur tengah ini tampaknya bukan hanya sekedar lukisan dokumentasi semata.

Pada tahun 1882 Inggris berhasil menaklukan Mesir dan beberapa negara Timur tengah lainnya. Singa dikenal sebagai lambang Kerajaan Inggris. Mungkinkah lukisan pertarungan dengan Singa ini mengalegorikan keadaan Timur Tengah pada masa itu? Dilihat dari korelasinya hal tersebut sangatlah relevan. Gambar pada lukisan ini adalah kumpulan simbol yang menyuarakan penjajahan Inggris pada masa itu. Meskipun Mesir telah kalah, mereka masih tetap ingin berjuang untuk merebut kembali kemerdekaannya.

Penutup

Salah satu yang menjadi catatan penting adalah banyak informasi yang mengatakan bahwa Raden Saleh adalah pelukis yang mengusung aliran romantisme. Aliran Seni lukis Raden Saleh bukan romantisme, melainkan Romantisisme. Kedua istilah tersebut memiliki makna yang berbeda bahkan diluar kenyataan bahwa romantisme bukanlah kata baku pada Bahasa Indonesia.

Sumber: serupa.id

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments