Friday, December 3, 2021
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeVisual DesignHana Madness, Bipolar tak Menghalanginya Menghasilkan Karya Seni

Hana Madness, Bipolar tak Menghalanginya Menghasilkan Karya Seni

Banyak orang yang bilang bahwa masa-masa sekolah merupakan masa terindah bagi mereka. Namun lain halnya bagi Hana Madness, atau yang memiliki nama asli Hana Alfikih ini. Kasih sayang orang tuanya tentu kerap ia rasakan, akan tetapi tak semua kenangan masa kecilnya dipenuhi dengan kenangan indah. Masa kecilnya yang cukup berat membentuknya menjadi sosok Hana yang kini berkarier di bidang seni sembari berjuang sebagai salah satu penyandang Bipolar Disorder di Indonesia.

“Somehow aku bersyukur sih karena gangguan ini bisa membawa aku sejauh ini dan aku mempelajari banyak hal banget dari diri aku sendiri.”

Kehidupan Masa Kecil
 


Hana merupakan sosok yang tumbuh di lingungan yang keras
Sumber: twitter.com

Besar di lingkungan yang kurang baik untuk anak seusianya dulu berdampak pada perkembangan Hana hingga kini. Banyaknya kekerasan dan tindakan tidak menyenangkan yang terjadi di lingkungan sekitarnya membuat Hana mengalami trauma yang akhirnya mempengaruhi perkembangannya kala itu.

“Ketika masih kecil itu banyak sekali hal buruk yang terjadi karena lingkungan. Mulai dari kekerasan, penyimpangan seksual di lingkungan sekitar itu banyak banget yang terjadi dan saat itu aku bener-bener kesepian,” kenang Hana.

Kurangnya perhatian dan dukungan yang diberikan oleh kedua orang tuanya membuat Hana menjadi anak yang jarang berada di rumah karena ia kerap merasa tidak nyaman berada di sana.Merasa tidak ada anggota keluarga yang mengerti perasaan dan masalahnya, Hana sering kali berjuang dan mencari kenyamanan di luar sana.

Hana mencari kehangatan dan perhatian yang tidak didapatkan dari keluarga dan teman-teman di sekolahnya dengan berteman dengan banyak orang. Meskipun sempat mengemban ilmu di sekolah unggulan, gangguan mentalnya sangat mempengaruhinya dalam belajar dan juga nilai akademiknya.

“Aku nggak punya temen di sekolah. Ada temen di sekolah tapi kebanyakan temen cowok dan kebanyakan temen cowok aku itu dari luar pergaulan sekolah dan mereka jauh lebih tua diatas aku,” ujarnya.

Bipolar Disorder
 


Hana mengidap Bipolar Disorder
Sumber: instagram.com

Tidak pernah terpikirkan oleh keluarganya bahwa Hana memiliki masalah kesehatan mental karena keanehan yang terjadi pada Hana mereka anggap sebagai suatu kerasukan. Ketika Hana duduk di bangku SMP, kesehatan mentalnya pun semakin memburuk. Hana mengaku sering menyakiti dirinya kala itu. Ia tidak sanggup dengan bisikan di kepalanya dan rasa marahnya yang bergejolak membuatnya sering mengkonsumsi obat dalam jumlah yang banyak guna menghilangkan bisikan dan amarahnya tersebut.

“Karena aku udah nggak kuat sama bisikan-bisikan yang aku rasain, sama isi kepala aku, sama rasa marah aku,” ungkap Hana.

Lamanya gangguan yang dialami Hana akhirnya membuat ia dan orang-orang disekitarnya menyadari bahwa ada yang salah padanya. Setelah melewati berbagai momen histeria dan mental breakdown yang terjadi padanya selama ini membuat salah satu teman Hana memutuskan untuk membawanya ke psikiater kala itu.

Saat itu merupakan pertama kalinya Hana mendapatkan pengobatan untuk gangguannya. Akan tetapi, pengobatan tersebut sempat terhenti dikarenakan kendala biaya. Akhirnya pada tahun 2013, Hana mendapatkan diagnosis akan gangguan mentalnya di RSCM.

“Dan pada saat itu diagnosanya masih Skizoafektif karena saat itu halusinasi aku sangat parah. Sampe akhirnya aku dapet pengobatan yang bener-bener fix diagnosanya pas di RSCM. Tahun 2013 terakhir aku masuk bangsal rehabilitasi RSCM disitu dokter diagnosa aku Bipolar Disorder tipe 1 tapi ada gangguan psikotiknya berupa halusinasi, delusi, dan kecenderungan menyakiti diri yang sangat tinggi. Kayak gitu lah, ” ujar seniman yang memiliki banyak tato ditubuhnya ini.

Seni Sebagai Terapi Kejiwaan


Doodle menjadi terapi untuk gejolak kejiwaannya
Sumber: instagram.com

Awal mula kecintaannya pada dunia seni dimulai ketika ia masih duduk di bangku sekolah dulu. Buku dan alat gambar menjadi satu-satunya barang yang ia selalu bawa kemanapun ia pergi. Ia juga memiliki banyak teman dari latar belakang seni yang akhirnya membuat Hana semakin mengenal dan dekat dengan dunia menggambar. Meskipun kala itu ia tidak mendapatkan restu dari orang tua terkait dengan hobi menggambarnya, Hana tetap terus menggambar yang akhirnya kini menjadi pekerjaan utamanya.

“Aku di sekolah mulai gambar-gambar. Aku tuh dulu ke sekolah cuma bawa tas kecil selempang gitu. Itu tuh isinya cuma sketch book, drawing pen, sama baju ganti,” ujarnya.

Pada awalnya, Hana hanya bermodalkan coret-coretan yang ia buat di buku gambarnya untuk menyalurkan perasaannya yang sering kali bergejolak tersebut. Hana mengaku bahwa ketika dulu, gambarnya masih kusut dan tidak berwarna atau hitam putih. Intensitasnya dalam menggambar pun semakin meningkat. Ketidakbisaannya dalam menggambar wajah akhirnya membuat Hana terus mencoba menggambar hal lain hingga akhirnya ia mulai membuat karakter-karakter monster yang kini menjadi ciri khasnya.

Karakter monsternya yang berwarna-warni rupanya memiliki cerita tersendiri. Hana mencoba merubah kesan atau anggapan orang-orang bahwa gangguan jiwa selalu memiliki kesan seram dan suram. Maka dari itulah, muncul monster-monster buatannya yang berwarna-warni sebagai bentuk representasi dari transisi dan gejolak kejiwaan yang sudah ia rasakan sedari dulu dan juga untuk merubah stigma orang-orang agar tidak memandang gangguan jiwa sebagai sesuatu yang selalu identik dengan kesan negatif.

“Mungkin karena aku nggak ada background seni rupa, aku nggak bisa ngegambar wajah, dan aku nggak bisa gambar ilustrasi yang gimana. Jadi aku hanya eskpresi aja. Bener-bener hanya terapi saat itu nggak mengharapkan apresiasi. Sampe akhirnya karakter itu nemu dan mungkin karena the power of social media, akhirnya tiap orang lihat karakter aku mereka tahu siapa itu,” katanya.

Ia merasa bahwa dalam berkarya seni tidak ada teknik yang salah, khususnya dalam menggambar. Yang terpenting baginya adalah memulai berkarya yang pada akhirnya nanti setiap orang pasti akan menemukan ciri khas dari karyanya masing-masing.

Bakat serta ketekunannya dalam menggambar tidak hanya menjadi terapi untuk Hana. Hasil karyanya tersebut kini menjadi sumber pendapatannya dan sukses membawa namanya semakin dikenal oleh masyarakat luas. Ketika ia pindah ke daerah Rawamangun dulu semasa sekolah dulu, ia bahkan sudah memulai usahanya sendiri berupa sablon dan juga mulai membuat desain-desain baju untuk usaha temannya.

Kini Hana semakin melebarkan sayapnya di dunia seni. Meskipun pada akhirnya Hana tidak menyelesaikan perkuliahannya, Hana perlahan-lahan membangun kariernya sebagai seniman dan juga mulai menyuarakan perihal hal-hal mengenai gangguan dan kesehatan mental pada orang-orang yang kini membuat namanya terdengar dimana-mana.

Menjadi Seniman dan Aktivis Kesehatan Mental


Hana kini sukses menjadi seniman yang juga menyuarakan kesehatan mental
Sumber: twitter.com

Setelah penampilannya di Indonesian Street Art Database dengan membawakan tema mengenai disabilitas dan kesehatan jiwa, namanya mulai dilirik oleh media dan khalayak ramai hingga akhirnya ia diundang ke acara TV ternama yaitu Kick Andy di dalam episode “Mereka Bilang Saya Gila”.

Tampil dan menjadi salah satu inspirator di acara besar tersebut tentu menjadi sesuatu yang membanggakan. Namun pada saat itu, Hana justru mengalami mental breakdown ketika hadir di acara tersebut. Hana merasa malu dan bahkan tidak mau pulang ke rumah karena ia malu orang-orang kini mengetahui gangguan mental yang ia miliki ke hadapan masyarakat Indonesia. Meskipun begitu, Hana juga menemukan dampak positif dari keputusannya untuk tampil di sana yaitu dengan menemukan banyaknya orang diluar sana yang juga mengalami hal yang serupa dengan dirinya.

Melihat banyaknya orang-orang yang menderita hal yang sama dengan dirinya membuat Hana memutuskan untuk tidak lagi malu dengan apa yang ia miliki dan akhirnya membuatnya dicari oleh banyak orang. Pada tahun 2016, Hana diundang oleh British Council untuk berangkat ke Inggris sebagai salah satu delegasi Indonesia di acara Unlimited Festival. Melihat banyak hal baru dan mendapatkan pengalaman berharga selama disana membuat Hana akhirnya memutuskan untuk melakukan sesuatu untuk tanah airnya melalui Festival Bebas Batas.

“Karena dari 2012 aku sering masuk media. Aku juga suka pameran menyuarakan isu kesehatan jiwa. Pada saat itu aku bilang kalau aku berkarya untuk menjaga kewarasan aku dan aku nggak ada pilihan. Itu semua ngalir sampe akhirnya aku dapet commission, dapet proyek korek Tokai yang tahun 2011 desainku di cetak 5000 piece ke seluruh Indonesia. Itu jadi titik balik aku. Terus aku suka submit artwork ke platform digital. Akhirnya tahun 2016 tiba-tiba aku dapet undangan dari British Council dan aku berangkat ke Inggris jadi delegasi,” tuturnya.

Hana kini sibuk menjadi aktivis kesehatan mental yang kerap berkelana ke berbagai kota dan negara sebagai seniman dan juga aktivis kesehatan mental di Indonesia. Hana juga saat ini sedang memperjuangkan isu pasung yang menjadi masalah besar di Indonesia terkait kasus gangguan mental di tengah masyarakat. Ia bersyukur dapat menyuarakan dirinya pada orang-orang dengan terbuka dan respon yang diberikan juga positif dengan banyaknya apresiasi orang-orang serta mulai tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya isu-isu tersebut.

Somehow aku bersyukur sih karena gangguan ini bisa membawa aku sejauh ini dan aku mempelajari banyak hal banget dari diri aku sendiri,” kata Hana yang nama panggungnya berasal dari nama band kesukaannya, Madness.

Hana menyampaikan pesannya untuk anak-anak muda Indonesia mengenai berkarya dan kesehatan mental yang sangat penting di matanya dan perlu diperhatikan oleh generasi muda kini.

“Banyak yang nanya, ‘Kak kapan sih aku harus ke psikiater?’, ‘Kapan sih aku harus ke psikolog?’, ‘Kalau gangguan aku nih gimana kak?’ Kalau kamu masih merasa kamu bisa meng-handle itu dengan ketemu temen atau cerita sama kakak kamu atau orang tua kamu dan kamu merasa aman, it’s okay kamu nggak perlu ke psikiater. Tapi ketika itu udah membuat kamu kehilangan fungsi sosial kamu, membuat kamu menarik diri, membuat kamu merusak semua yang ada disekitar kamu, dan merugikan orang disekitar kamu juga termasuk diri kamu sendiri, kamu harus dateng ke psikiater atau psikolog,” pesan Hana.

“Itu harus dan jangan pernah self-diagnosed. Banyak banget kan sekarang yang gitu. Dan stres itu normal kok. Semua orang itu punya peluang depresi. Kita semua punya lho presentase untuk menjadi gila. Tapi besar dan kecilnya aja yang berbeda,” tutupnya.


Hana Madness mengajarkan kita bahwa janganlah berputus asa pada apa yang terjadi pada diri kita. Melalui proses dan pengalaman yang berat membentuk Hana menjadi sosok yang kuat dan dapat mengerti diri sendirinya sendiri. Meskipun ia memiliki Bipolar Disorder, hal tersebut tak menghentikannya dari apa yang ia sukai dan kini ia sukses membuktikan dirinya sebagai salah satu seniman Indonesia yang berprestasi.

Sumber: kinibisa.com

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments