Pelukis Ekspresionis ‘Nyeleneh’ Affandi, Melukis dengan jari tangan

on

|

views

and

comments

Affandi adalah seorang pelukis ekspresionis yang terkenal melalui teknik khas menumpahkaan cat dari tube-nya langsung pada kanvas, kemudian menyapukan sebagian cat dengan jari-jarinya. Affandi menyebut dirinya sendiri sebagai “Pelukis Kerbau” yang tak mau baca teori. Namun dalam perjalanan karirnya ia tetap mampu memahami dan menggeluti bidang seni rupa. Ia lebih senang mempelajari sesuatu dengan cara langsung terjun ke lapangan.

Lukisan Penting Karya Afandi

1. Ibuku (1941)

Ibuku, oleh: Affandi. galeri-nasional.or.id
Ibuku, oleh: Affandi. galeri-nasional.or.id

Lukisan berjudul “Ibuku” belum menggunakan ciri khas Affandi yang membuatnya terkenal. Namun lukisan ini menjadi catatan yang penting, bahwa meskipun Affandi mengabaikan teknik pada karya ekspresionisnya, ia dapat melakukan teknik lukis realistik (naturalis tepatnya). Sosok ibunya sendiri yang sudah tua digambarkan mengenakan pakaian sehari-harinya. Namun ibunya berpose anggun seperti pada lukisan-luksan era renaisans – romantisisme. Tangannya ditaruh di pundaknya, menunjukkan bahwa Affandi mengerti mengenai pose potret yang dianggap indah untuk menunjukkan sosok potret perempuan berdasarkan teknik lukis Barat.

Sapuan kuasnya sudah tampak sangat berani dan menunjukkan bahwa ia sudah terbiasa untuk melukis lukisan yang tampak natural dan mirip aslinya. Ekspresi wajahnya menimbulkan enigma yang selalu mempertanyakan perasaan apa yang sedang dirasakan oleh sang Ibu. Sedih? Marah? atau memang raut wajahnya saja yang sudah menggambarkan manis-pahitnya kehidupan yang telah dijalaninya.

2. Potret Diri & Topeng-topeng Kehidupan (1961)

Potret Diri dan Topeng-Topeng Kehidupan, oleh: Affandi
Potret Diri dan Topeng-Topeng Kehidupan, oleh: Affandi

Affandi terkenal karena karya figuratifnya, terutama pada tahun 1960-an. Ia senang bermain dengan tema pertunjukan wayang topeng dan peran stereotip dari karakter bertopeng. Presentasi subjek topeng dapat meperlihatkan kepribadian tertentu dengan disposisi yang apik dari potret dirinya sendiri. Penekanan estetikanya melalui sapuan cat yang dinamis dan khas (menumpahkan cat langsung dari tube) diiringi dengan pilihan palet warna yang kelam semakin menjadi identitasnya.

Baginya potret diri terkadang menjadi perwakilan dari manusia. Ia menggunakan potretnya karena ingin melukis walaupun tidak memiliki subjek sebagai referensi. Maka, potret dirinya sendirilah yang di lukis. Topeng-topeng kehidupan bisa menjadi representasi ide spiritualnya sendiri yang merasa bahwa mendapatkan godaan dan bisikan dari setan. Kelemahannya sebagai manusia yang tidak kuasa melawan godaan dituangkan dalam lukisan ini.

Meskipun bisa jadi kita memproduksi makna lain seperti mungkin topeng-topeng tersebut adalah kegetiran di masa tenarnya. Orang-orang “bertopeng” kian menghampiri hanya untuk memanfaatkan ketenarannya saja. Muak akan hal itu ia tidak mengutarakannya secara langsung, tetapi membicarakannya melalui lukisannya.

3. Potret Diri (1981)

Potret Diri, oleh Affandi
Potret Diri, oleh Affandi. galeri-nasional.or.id

Potret diri adalah salah satu tema yang paling sering dibawakan oleh Affandi. Lukisan didominasi oleh wajah seorang tokoh laki-laki. Lukisan ini berfokus pada wajah sosok laki-laki yang merupakan dirinya sendiri. Terdiri dari garis-garis melengkung, bergelombang, tebal, berantakan dan bertekstur kasar. Warna yang digunakan sangat kontras dan hangat.

Lukisan itu menggambarkan sang seniman sendiri, dalam suasana hati yang sangat spiritual dan emosional (berkontemplasi, bukan marah). Subjeknya adalah cerminan diri yang sudah tua karena memiliki rambut putih dan kepala yang hampir botak. Potret tampak sedang menghisap pipa tembakau, yang bisa jadi menunjukan insting self destruction yang makin menjadi pada usianya yang sudah tidak lagi muda. Meskipun begitu melalui sapuan, atau tepatnya tumpahan catnya, ia masih menunjukkan gairah estetis yang membara.

Affandi pernah berkata: “Motif yang paling aku hafal dan paling aku senangi ialah rupaku dhewe yang elek, mirip Sukrasana ini,” Ia terus menerus mengulang-ulang menggambar Potret wajahnya sendiri hingga puluhan kali. Namun setiap potret wajah memiliki ekspresi yang berbeda, meskipun masih dalam satu teknis yang hampir sama.

Terdapat catatan yang Affandi tulis sendiri tentang lukisan potret diri yang berjudul Oongkol (1946) Ia menulis menulis: “Pernah terdjadi, bahwa saja beberapa bulan tida bisa melukis, walaupun tiap pagi saja pergi untuk melukis. Pada suatu hari saja pulang kerumah dengan tangan hampa, tida dapat lukisan. Merasa marah dongkol, sekonjong-konjong lihat dalam katja muka saja sendiri dengan expressi dongkol ini. Itu waktu djuga lukisan dibikin. Aneh, berbulan2 tida dapat motiet, sekonjong motiet dekat sekali, muka sendiri”

Sumber: serupa.id

Share this
Tags

Must-read

Mantaflow Creating Fire

Menciptakan efek api? Mudah dengan Mantaflow! https://www.youtube.com/watch?v=lR9vjaYzeYQ
spot_img

Recent articles

More like this