Tuesday, August 16, 2022
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeVisual DesignMengenal John Martono, Salah Satu Seniman Abstrak Terbaik Indonesia

Mengenal John Martono, Salah Satu Seniman Abstrak Terbaik Indonesia

Tak banyak seniman serupa John Martono. Puluhan tahun berkarya, dia konsisten melukis di atas sutra. Menjadi satu di antara sedikit pelukis sutra yang namanya akrab di telinga penggiat seni mancanegara.

MELUKIS sudah jadi rutinitas John Martono. Meski darah seniman tidak mengaliri tubuhnya, dari kecil pria dengan panggilan John itu sudah menunjukkan bakat seni. Dia gemar melukis. Seperti anak kecil pada umumnya, pemandangan menjadi objek favoritnya. Gunung, petani, dan sawah berulang dia lukis.

Adalah Muhammad Hoesin ayah sekaligus sosok yang mendekatkan John dengan dunia lukis. Mengenalkan John kepada perupa senior di Batu, kota kelahiran sekaligus tempat dia menimba ilmu. ”Dulu Sabtu hari yang paling kutunggu,” kenang John saat berbincang dengan Jawa Pos Senin pekan lalu (30/1). Setiap Sabtu dia bisa melukis semalam suntuk. Menghabiskan waktu bersama imajinasi yang berkutat di kepalanya. Lepas isya sampai lewat tengah malam.

Berjam-jam John habiskan di depan kanvas. Media lukis yang dia buat adalah bekas karung tepung terigu. Esoknya aktivitas itu berlanjut. Bersama pelukis yang dikenalkan ayahnya, dia berkeliling Batu. Membawa kertas dan pensil. Melukis banyak objek. Pertokoan, perempatan jalan, sungai. Semakin hari, dia kian cinta dengan dunia lukis.

Pernah John diajak ayahnya ke Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Betapa kaget dia melihat kapal dalam wujud sebenarnya. ”Gimana lukisnya, besar sekali,” gumamnya kala itu.

John lalu dibawa ke kebun bintang. Melihat hewan raksasa serupa gajah, dia amat terkesima. Senang bukan kepalang lantaran imajinasi dalam kepalanya tidak lagi melulu gunung, petani, dan sawah.

Semakin jauh bepergian, kian banyak yang bisa jadi objek lukisan. Sampai masuk SD, SMP, dan SMA, John terus melukis. ”Sejak SMP aku sudah pameran di Batu, Malang, dan Surabaya,” ungkapnya. Aktivitas itu tidak berhenti meski dia masuk Desain Tekstil Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB. Tekadnya bulat, dia tidak ingin bekerja di dunia industri.

Tekad itu melahirkan ide gila. Menggabungkan seni lukis dengan seni tekstil. Mengombinasikan kemampuan melukis dengan pengetahuan soal tekstil. ”Sejak 1993 aku sudah siapkan,” kata John. Mulai saat itu, pria yang berulang tahun setiap 31 Maret tersebut melukis di atas kain. Sutra menjadi pilihannya.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments