Ternyata Ini Dia Cara Mudah Menggambar Ekspresi!

Bagi siapapun yang karya ilustrasinya mencakup karakter, ekspresi wajah sama seperti monitor komputer ini: jika itu tidak berkerja dengan benar, maka semua rekayasa brilian yang ada dalam membangun perangkat keras menjadi sia-sia.

Wajah manusia berada dalam peringkat teratas akan hal-hal yang langsung menarik perhatian mata: jika sebuah wajah tampak dalam komposisi tertentu, hal pertama yang kita lihat adalah ekspresinya. Badan mengekspresikan tindakan, namun wajah adalah jendela ke dalam sisi dalam seseorang, dan ekspresi sisi dalam ini di dalam sebuah karakter yang membedakan antara seniman (atau penulis) pengamat yang ahli dan peniru. Berikut adalah dua alasan yang sangat penting mengapa kita harus sungguh-sungguh mengasah skill khusus ini. Sebuah ekspresi wajah yang hidup bisa menutupi beberapa kelemahan dalam proporsi (khususnya karena itu akan tetap mempertahankan pandangan agar tidak menjauh dari wajah!), namun bukan kebalikannya – sebuah karakter dengan wajah seperti topeng bisa menurunkan minat.

Di dalam menggambar ekspresi wajah seseorang harus menangani antara dikotomi realitas terhadap representasi. Sama seperti aktor teater yang harus mendukung akting mereka dengan lebih banyak gestikulasi dan naskah teatrikal daripada biasanya, karena ekspresi wajah yang “normal” tidak bisa dilihat secara mudah oleh audiens, jadi kita harus melewatkan “seperti apa wajah sedih itu” dan memiliki tujuan “petunjuk wajah seperti apa yang terbaca sebagai kesedihan”. Dengan kata lain, sebuah ilustrasi perlu membentuk petunjuk kehidupan nyata yang tidak ada di atas kertas.

Di dalam tutorial ini saya mendiskusikan bagian-bagian wajah yang berubah untuk menyatakan emosi, kemudian melanjutkan untuk menunjukkan bagaimana berbagai macam ekspresi wajah bisa dihasilkan. Saya mencoba untuk mencantumkan banyak emosi yang kompleks namun sering digunakan, namun bukan berarti ini mewakili semua ekspresi yang bisa dihasilkan wajah. Diagram berkerja sama seperti halnya roda warna: tiap dua warna bisa dicampur, namun jika kamu mencampurnya terlalu banyak, hasilnya adalah warna keabu-abuan yang tidak bisa diartikan. Sama halnya, kita bisa merasakan banyak emosi pada waktu yang bersamaan, namun semakin banyak dan/atau kontradiksi mereka, semakin ambigu wajah tersebut karena mereka saling membatalkan. Tidak ada resep untuk mencapai ini dengan sukses, hanya satu aturan dasar: seberapa baik kamu menggambar sebuah emosi terkait dengan seberapa baik kamu bisa menstimulasi emosi tersebut di dalam dirimu sendiri, dengan kata lain untuk merasakannya seolah kamu menggambar dan menyadari bagaimana kamu bereaksi terhadap itu – persis seperti yang dilakukan aktor yang meyakinkan.

Pohon Emosi yang digunakan di sini adalah sistem percabangan saya dan yang saya rasa cukup nyaman, namun itu tentunya bukan berdasarkan klasifikasi ilmiah, dan masih mungkin untuk disusun secara berbeda. Label paling mudah dimengerti sebagai relatif satu sama lain daripada sebagai nilai mutlak, karena orang yang berbeda tidak akan hanya mengekspresikan emosi secara berbeda, mereka juga mengartikannya secara berbeda tergantung pada pengalaman dan budaya. Emosi yang saya beri label “marah” mungkin tampak “geram” bagi kamu, atau mungkin karakter kamu begitu sangat tabah sehingga kemarahannya hanya tampak “kesal” dalam diagram saya. Apa yang penting di sini adalah bahwa “marah” lebih kuat dari “kesal” dan lebih lemah dari “geram”. Berikut fakta yang berguna: Studi menunjukkan bahwa ekspresi wajah dari kebahagiaan, kesedihan, marah, takut, terkejut, muak, dan tertarik bersifat universal pada semua kebudayaan.

Banyak yang bisa dilakukan hanya untuk mata saja. Saling pengaruh antara kelopak mata, posisi iris, dan ukuran pupil membuat perbedaan ekspresi yang halus namun bisa ditangkap, karena mata adalah fokus utama dalam wajah. Mereka mendominasi ekspresi secara menyeluruh, jadi pastikan kamu menggunakan mata yang tepat sebelum berfokus ke yang lainnya. Di dalam Pohon Emosi, mata yang membuka dan keadaan pupil dijelaskan dengan istilah dalam cetak tebal, seperti berikut ini:

Waspada yang saya maksud di sini adalah mata berada dalam keadaan natural ketika kita aktif. Mereka tidak harus lebih terbuka daripada mata rileks, namun dalam sebuah gaya menggambar yang tidak sangat detail, kelopak mata tidak seharusnya digambar karena mereka memberikan petunjuk “tidak waspada” bagi yang melihatnya.

Pupil juga memiliki tiga ukuran:

Pupil yang melebar tidak terjadi dengan mata yang waspada atau lebar (satu-satunya pengecualian adalah keadaan teror yang mendalam). Pupil yang menyempit tidak terjadi pada mata yang rileks atau mengantuk.

Perhatikan bahwa mata yang cerah (biru, abu-abu) selalu tampak lebih lebar daripada mata yang gelap, dan kebalikannya, mata gelap selalu tampak lebih rileks daripada mata cerah. Penyesuaian pada ketiga faktor dalam satu cara atau lainnya selalu perlu untuk membuatnya tampak benar. Karena saya perlu menunjukkan pupil, diagram saya selalu memiliki mata cerah.

Advertisement

Alis sangat halus. Saya menemukan bahwa perubahan kecil pada alis mata bisa mengubah ekspresi yang sedang saya gambar. Untuk tujuan kita bisa membagi alis menjadi dua bagian yang bisa bergerak semi bebas: kepala dan kurva. Saya mengatakan semi – karena yang satu ini selalu berakhir dengan sedikit menarik yang lainnya. Mereka berdua bisa berada pada posisi istirahat, naik atau turun, dan kombinasi dua kontraksi ini menghasilkan ekspresi yang ditunjukkan dalam tabel ini:

Tiap kontraksi bisa menunjukkan berbagai derajat intensitas, yang juga mempengaruhi keseluruhan bentuk (dan membuat alur di atas hidung dan pada dahi), sehingga kita berakhir dengan banyak variasi sangat halus yang tidak bisa ditunjukkan dalam diagram. Gunakan insting dan skill pengamatan. Pohon Emosi menjadi sejumlah contoh yang bagus.

Area mulut merupakan yang kedua setelah mata untuk ekspresi. Kamu akan menemukan detail posisi bibir (dan fitur ekspresif tambahan seperti lesung, pipi…) di dalam Pohon Emosi, namun berikut catatan mengenai bentuk mulut, yang dibuat oleh kombinasi kurva tiap bibir.

  1. Kedua bibir melengkung ke atas: seringai, bentuk mulut (terbuka) senang secara umum
  2. Bibir atas melengkung ke bawah, bibir bawah melengkung ke atas: ekstra senang – mulut terbuka lebih dari biasanya, barangkali untuk berteriak.
  3. Kedua bibir melengkung ke bawah: kecemasan, ketakutan (sudutnya rileks namun bibir bawah menekan ke atas dalam derita).
  4. Bibir atas melengkung ke bawah, bibir bawah melengkung ke atas, namun kali ini bagian atas lebih besar: rahang jatuh. Semuanya kendur.
  5. Bibir tampak seperti mereka akan bergabung di tengah: disebabkan oleh sudut-sudut, yang terangkat menjadi sebuah geraman: ini adalah mulut terbuka yang marah.

Hidung bukanlah fitur paling ekspresif, namun itu menyala pada emosi tertentu (marah, menangis, muak, gairah) dan bahkan mengkerut pada bagian dasar selama kemarahan ekstrim dan muak.

Ini adalah klasifikasi saya tentang 58 ekspresi wajah yang umum, kebanyakan bisa dikombinasikan bersama jika perlu. Dari wajah Kosong, itu bercabang menjadi lima emosi besar: Rileks, TerkejutTersenyumMarah dan Sedih. Karakteristik tiap ekspresi dijelaskan secara detail di bawah.

Memiliki karakteristik berdasarkan horizontal dari fitur dan kurangnya sifat ekstrim – tanpa distorsi wajah.

Wajah kosong merupakan titik awal untuk semua emosi, namun itu didiskusikan di sini untuk dibedakan dari wajah rileks. Kenyataannya, wajah kosong atau netral adalah wajah rileks, namun tidak perlu tampak seperti itu. Fitur individual orang menyela; beberapa orang ketika sepenuhnya rileks, tampak seperti mereka bermuka masam, yang lainnya tampak seperti mereka tersenyum. Jadi di atas kertas, untuk membuat sebuah wajah tampak kosong, kita memerlukan poin-poin berikut:

  • Wajah tidak memiliki ekspresi namun tidak kendur.
  • Alis mata netral.
  • Mata waspada namun bisa rileks untuk tampilan yang kosong dan tidak fokus.
  • Pupil bersinggungan.
  • Bibir tertutup dan netral (garis horizontal lurus)

Untuk membedakan ini, di atas kertas, dari wajah kosong, kita perlu menekankan perasaan relaksasi.

  • Naikkan sedikit mulut. Senyum hampir tidak bisa dikenali namun membuatnya jelas bahwa ini adalah perasaan yang menyenangkan.
  • Alis mata tetap netral
  • Mata rileks, pupil tertutup dan melebar dengan nyaman.

Kedamaian batin dan manifestasi ketenangan dalam hilangnya tegangan pada fitur wajah.

  • Satu-satunya perbedaan nyata dengan “rileks” adalah mata tertutup, seolah percaya dan pasrah.
  • Fakta bahwa mata tertutup membuat alis sedikit terkulai.
  • Kelopak mata dan area di sekitar mata tertutup yang rileks halus, dengan kelopak mata bawah melengkung ke atas.

“Aahhhh…” Wajah yang membuat produk permbersih dan bau yang menyenangkan.

  • Satu-satunya perbedaan nyata dengan “Damai”: senyum melebar dan bagian bibir berada dalam reaksi naluriah pada sesuatu yang menyenangkan indera. Perhatikan bahwa jika stimulus semakin kuat, hasilnya adalah wajah yang “Menikmati”.

“Mmmm…” Indera terpuaskan!

  • Senyum melebar, sudut-sudutnya tertekan, lesung mungkin tampak.
  • Mata tetap tertutup, untuk alasan yang sama.
  • Kepala sedikit miring ke belakang dan dagu terangkat – bergerak mundur dari hal-hal untuk lebih berfokus pada perasaan.

Kelopak mata berat dikombinasikan dengan sebuah senyuman menyangkal fakta orang ini tidak hanya “rileks”, namun memiliki setiap niat untuk menjadi diam.

  • Mata mengantuk, pupil paling tidak separuh tertutup: tonus di kelopak mata lebih sedikit daripada keadaan normal.
  • Bahkan alis lebih mulus dari biasanya.
  • Senyum sedikit tanpa usaha!

Hilangnya tonus tidak lagi sesuatu yang dinikmati, namun dikarenakan hilangnya energi.

  • Kepala sedikit terkulai ke depan.
  • Mata mengantuk.
  • Alis mata sayu.
  • Mulai muncul kantung di bawah mata.

Tidak ada energi tersisa, semuanya merosot.

  • Kepala jelas terkulai.
  • Alis mata lebih sayu, bahkan menyakitkan.
  • Mata susah terbuka.
  • Kantung tampak jelas.
  • Rahang cukup rileks hingga sedikit terjatuh.

Terantuk-antuk. Itu merupakan jenis kelelahan yang berbeda, tidak dikarenakan pekerjaan yang terlalu keras, dan sebagai hasilnya tidak ada ketegangan yang muncul (kecuali salah satunya adalah lelah dan mengantuk).

  • Alis tegang di atas mata yang dipaksa untuk tetap terbuka.
  • Kepala menunduk ke depan dan sangat cenderung miring ke satu sisi.
  • Mata dan alis lainnya rileks sepenuhnya seolah tertidur.
  • Mulut netral.

“Hah? Apa?… Dimana kopi saya?” Keadaan ini dimana kita sulit sekali terbangun, alias Senin pagi.

  • Mata tidak fokus dan muram.
  • Alis menunjukkan kebingungan.
  • Mulut kebingungan.

“Mati gaya” merupakan ekspresi yang jelas: Semua fitur horizontal, seolah ingin tampak lebih kosong daripada wajah kosong.

  • Alis berada posisi paling datar dan rendah pada mata.
  • Mulut sedikit mengarah ke bawah (kebosanan itu tidak menyenangkan), namun tidak cukup untuk tampak seperti ada usaha yang dilibatkan.
  • Mata mengantuk.

Ini adalah area yang lebih kecil daripada yang lainnya, karena terkejut biasanya dipadukan dengan emosi lainnya, namun di sini kita membahas rasa terkejut murni yang “tanpa bumbu”, entah positif atau negatif. Karakteristik keseluruhannya adalah terbuka dan membulat: pertama-tama mata, kemudian fitur lainnya.

Satu-satunya perubahan dari wajah Kosong adalah minat yang diekspresikan dalam area mata.

  • Alis mata terangkat; salah satu mungkin terangkat lebih tinggi untuk penekanan.
  • Mata menjadi waspada dan fokus.
  • Mulut mungkin sedikit terbuka seolah ingin mengambil lebih banyak.

Reaksi biasa pada sesuatu yang tak terduga. Kepala biasanya secara bersamaan tersentak ke belakang.

  • Mulut mengkerut; ini lebih sebagai efek gaya daripada reaksi sebenarnya, yang mengurangi mulut untuk membawa semua fokus pada mata lebar.
  • Mata membulat dan lebar (dengan hampir tanpa iris) dan alis
  • Mulut mungkin sedikit terbuka.

“Saya tidak bisa memahami ini…”

  • Mata juling sedikit seolah sedang melihat masalah, dan mengarah ke bawah.
  • Alis mengerut dalam fokus.
  • Bibir mengerucut dalam pantulan.
  • Sebuah alis biasanya terangkat dalam kecemasan (“Apakah saya sedang mencari tahu itu?”)
  • Ahli perilaku telah memperhatikan perbedaan berikut antara jenis kelamin: Ketika bingung, laki-laki cenderung menggosok dagu mereka dengan tangan, mencubit daun telinga mereka, atau menggosok dahi/pipi/punggung leher. Sedangkan wanita cenderung meletakkan jari pada gigi bawah bagian depan dengan mulut sedikit terbuka, atau meletakkan jari di bawah dagu.

Ini adalah reaksi pada sesuatu yang tidak hanya tak terduga, namun yang tidak pernah kita percayai akan terjadi. Itu cenderung diikuti oleh sedikit memiringkan kepala ke depan, sehingga mata harus benar-benar melihat apapun yang berkesan (atau ide itu).

  • Mata lebar, namun alis tidak membulat atau terangkat (kebalikan dari “penasaran”) – seolah tidak semua wajah benar-benar ingin mempercayai berita.
  • Rahang sedikit jatuh.

“Terkejut” pada tingkatan yang jauh lebih intens, mengucapkan ketidakpercayaan, pendaratan alien, seekor hewan yang menanyakan waktu kepadamu, sesuatu seperti itu.

  • Rahang jatuh: karena ini berarti itu mengendur, mulut tetap sempit. Terbuka lebar, seperti saat takut, akan memerlukan usaha otot yang tidak ada saat itu.
  • Alis mata banyak terangkat.
  • Mata pada posisi terlebar, tanpa iris.
  • Sebuah garis bundar di sekitar mata mengilustrasikan ide yang muncul keluar.
  • Bibir tidak meringkuk, sehingga gigi tidak tampak.

Memiliki karakteristik fitur wajah yang melengkung ke atas.

Ini adalah senyum yang dikenal sebagai sopan, dengan niat, lemah atau “palsu”. Itu dikenali dari dua tanda (namun bisa dibedakan dengan sebuah senyum ringan namun tulus, seperti dalam “damai”):

  • Kelopak mata bawah tidak menyempit, yang tidak membuat penyipitan pada sudut mata.
  • Sudut bibir meregang secara horizontal alih-alih melengkung ke atas.

Ini adalah senyum yang seringkali digunakan dalam foto, karena itu tidak mendistorsikan fitur. Di dalam beberapa kebudayaan seperti di Asia Tenggara, senyum seperti ini bisa menunjukkan rasa malu atau bahkan penolakan secara halus.

Sebuah senyum tulus (juga dikenal dengan zigomatik) merupakan sebuah refleks yang tidak bisa ditiru.

  • Kelopak mata bawah menyempit, mengerutkan mata, seringkali membuat garis sipit.
  • Sudut-sudut pada kurva mulut melengkung ke atas, yang membuat keseluruhan garis mulur bergerak sedikit ke atas pada wajah.

Sebuah “senyum sungguhan” yang telah mengambil begitu banyak intensitas bibir dipaksa untuk menampilkan gigi.

  • Mata yang sama atau bahkan lebih berkerut.
  • Sudut-sudut mulut menjadi bukti yang lebih kuat, dengan garis-garis yang menghubungkannya pada sayap hidung.
  • Tampilan sekilas gigi berbentuk segitiga merupakan isyarat rasa senang yang kuat.

Emosi ini ingin muncul keluar, begitu juga fitur-fiturnya, walaupun tetap menyempit, terbuka.

  • Mata melebar namun kamu tetap dapat melihat penyempitan kelopak bawah.
  • Alis mata terangkat.
  • Seringai besar.

Bendungan telah pecah dan wajah secara bebas menumpahkan kesenangan dan rasa gembira.

  • Alis mata membulat dan meninggi.
  • Mata membulat dan iris menjadi bebas.
  • Mulut membuka menyeringai – sulit untuk tetap tenang dalam keadaan ini.

Ini dianggap sebagai emosi netral; untuk kaitan negatif lihat “Angkuh” dan “Arogan”.

  • Mata tertutup dan rileks, yang merenungkan pencapaian seseorang.
  • Senyum terkesan sombong.
  • Dagu terangkat tinggi, kepala miring ke belakang.

Ketika sesuatu berjalan sesuai keinginan kita namun kita mencoba untuk menahan kepuasan, diluar kesopanan atau kejailan.

  • Mata tertutup seolah ingin menyembunyikan rasa puas diri.
  • Bibir bawah menekan ke atas, yang semakin mengkerutkan mata.
  • Senyum lebarnya nyata, namun mulut mengatup pada saat yang sama, sekali lagi untuk mendiamkan; ini membuat lebih banyak garis.

“Oops! Itu lucu.”

  • Alis mata terangkat.
  • Mata biasanya waspada, pupil sedikit menyempit.
  • Senyum melengkung ke atas namun terkekang, barangkali tidak untuk menyerang subyek yang membuat lucu.

1. Tertawa terbahak-bahak: kepala tiba-tiba miring ke belakang. Semua kontraksi berada di wajah bagian bawah, area mata terlepas untuk saat ini.

  • Mata tertutup namun tidak bisa rileks.
  • Mulut terbuka lebar, bibir bagian atas hampir datar dan bibir bagian bawah menjelaskan sebuah kurva parabola yang besar.
  • Alis mata meninggi dan membulat.
  • Lubang hidung melebar.
  • Gigi dan lidah terlihat.

2. Tertawa yang merupakan reaksi keras: Setelah beberapa saat, stress (dan bahkan rasa sakit) mulai muncul seiring semakin banyak bagian wajah yang berkontraksi.

  • Kepala dan tubuh mengangguk maju mundur.
  • Alis mata mengkerut atau menjadi menyimpul.
  • Mata menyempit dan mungkin mulai mengeluarkan air mata.
  • Mulut tetap terbuka lebar namun ada usaha untuk menutupnya.
  • Hidung berkerut dan lubang hidung melebar.

Melihat yang terkasih, seorang anak kecil atau sesuatu yang mempesona.

  • Kepala miring ke samping dan sedikit ke depan.
  • Mata lembut: rileks, dengan kelopak bawah sedikit menekan ke atas, menutupi pupil.
  • Mulut melengkung dalam senyum lembut.

Ini beragam dengan kepribadian, namun ini adalah contoh yang menggabungkan beberapa ketetapan.

  • Kepala sedikit miring ke depan, sebuah petunjuk submisif yang menunjukkan bisa didekati.
  • Daya tarik seksual melebarkan pupil dan warna pipi menjadi merah.
  • Matanya berat, “mata keranjang”.
  • Bibir digerakkan (mengarah keluar) dengan cemberut untuk menunjukkan keamanan dan ketersediaan (bagi kedua pihak).
  • Perlu dicatat juga bahwa pasangan pacaran sering melihat ke bawah ketika berbicara, dan baik pria dan wanita memiringkan kepala mereka sebagai isyarat menggoda.

“Siapa, saya? Saya tidak paham apa yang sedang kamu bicarakan”. Ini adalah untuk efek komik. Seseorang yang benar-benar ingin tampak polos akan mempertahankan wajah netral dan pandangan yang datar.

  • Alis membulat dan meninggi, seolah terkejut.
  • Mata menatap ke atas atau menjauh secara berlebihan.
  • Mulut bisa membentuk berbagai ekspresi, mulai dari mengatup hingga seringai.

Kerja keras hari ini dan hari esok yang lebih baik dicerminkan dalam wajah ini.

  • Mata melihat ke atas seolah membayangkan masa depan atau mengharapkan sesuatu yang lebih baik.
  • Alis mata sedih: “kasihan saya”
  • Senyum tipis merupakan pertanda sebenarnya dari harapan di sini; tanpa itu, itu hanyalah sebuah wajah yang sedih.

Ditandai dengan penyempitan, khususnya area antara alis, yang berkerut maksimal dalam beberapa ekspresi ini.

Muka masam tingkat rendah bisa berarti seseorang yang mulai merasa terganggu, namun tidak harus seperti itu; muka masam juga menunjukkan fokus, keraguan, mencoba untuk mengingat sesuatu. Sebuah muka masam yang sangat ringan dalam wajah yang tersenyum membuatnya tampak lebih bertekad dan kurang santai.
Terlepas dari muka masam, wajah tetap kosong. Itu adalah wajah yang mau menerima (mendengarkan/menyaksikan/berfikir): “Saya sedang mengumpulkan data sebelum saya memutuskan harus merasa seperti apa”.

  • Mata waspada, menerima informasi.

Tidak ada ambiguitas di sini: emosi ini lebih ringan dari marah, namun jelas menandakan rasa terganggu.

  • Kepala dan alis mengarah ke bawah, dan mungkin menunjukkan muka masam..
  • Sebuah muka masam vertikal dibuat antara alis yang menyimpul.
  • Rahang menjadi tegang dalam postur menggigit yang menekan bibir bawah ke depan dan membuat mulut melengkung ke bawah.
  • Mata waspada.

Kemarahan menyebabkan seseorang menatap dengan tetap, sebuah perilaku yang sangat dasar dalam bertujuan membuat orang lainnya diam tanpa bertengkar.

  • Alis mata rendah mendekati mata dan tersimpul jelas, yang membuat lebih banyak kerutan.
  • Lubang hidung merekah, yang membuat garis sayap tampak secara proporsional pada rasa benci terhadap obyek kemarahan.
  • Mulut terkatup ke dalam sebuah garis dengan garis menurun keras pada sudut.
  • Salah satu tanda pertama kemarahan adalah memerahnya telinga secara tidak terkendali.
  • Salah satu tanda kemarahan lainnya adalah sebuah tubuh yang tegang, tampilan dominan (tangan di pinggang atau menggenggam membentuk kepalan, gestur telapak ke bawah).

Emosi tidak bisa dibendung lagi dan mulut terbuka hendak berteriak.

  • Kepala miring ke depan, seperti seekor banteng siap menubruk.
  • Alis mata berada di posisi terendah, membayangi mata.
  • Ada tegangan di sekitar mata.
  • Sebuah geraman membuat sudut atas mulut meregang lebih sering sembari bibir bawah tetap terdorong ke atas, yang mengakibatkan bentuk mulut ini.
  • Ada garis geraman pada hidung, menambahkan kerutan horizontal pada vertikal.
  • Lubang hidung jauh lebih merekah, dengan garis jelas dari sayap hidung hingga sudut mulut.
  • Gigi taring bawah terlihat di sudut.

Kebalikan utuh dari hewan yang membabi buta. Apa yang terjadi pada wajah manusia di sini bisa diamati poin demi poin dalam singa atau serigala yang mengamuk.

  • Alis mata pada saat yang sama tersimpul dan melengkung, membuat garis di dahi.
  • Mata terbuka lebar dengan titik pupil yang tampak marah dan buta oleh amarah.
  • Hidung atas berkerut oleh sebuah geraman.
  • Liur atau ludah sangat mungkin terjadi!
  • Pembuluh darah menjadi tampak pada urat seiring meningkatnya tegangan arteri.
  • Area mulut dan hidung menekan “Kemarahan” pada tingkat ekstrim, yang menampakkan lebih banyak gigi dan lidah.

Dalam respon terhadap sesuatu yang dibenci, entah itu secara fisik (bau tidak sedap…) atau secara moral (curang…)

  • Kepala miring ke belakang, melihat ke bawah ke arah hidung.
  • Lubang hidung naik, membuat garis sayap menonjol dan menarik bibir menjadi sebuah lengkungan pada satu atau kedua sisi.
  • Bibir bawah menekan ke atas, yang melengkungkan mulut ke bawah.
  • Mata waspada namun menyempit.
  • Sudut-sudut mulut ditarik ke samping, membuatnya lebih lebar.

Ekspresi Lucius Malfoy. Itu merupakan sebuah cemooh, namun tanpa intensitas: penghinaan secara dingin. Obyek hinaan terlalu tidak signifikan untuk menyebabkan reaksi emosional.

  • Mata rileks, pupil tertutup.
  • Kepala miring ke belakang, melihat ke bawah ke arah hidung.
  • Alis mata sedikit terangkat dalam menghina, hampir mengkerut.
  • Mulut melengkung ke bawah.
  • Mata berputar dengan sinis.

Tidak hanya percaya bahwa dia unggul, namun juga cukup sombong akan hal itu.

  • Kepala miring ke belakang, melihat ke bawah ke arah hidung.
  • Alis lebih rendah, yang menandakan kerutan.
  • Senyum sombong: sebuah senyum palsu dengan bagian tengah ditekan ke atas oleh bibir bawah
  • Salah satu atau kedua sudut mulut ditekan ke atas dalam seringai, yang menambahkan kecerdikan dan keunggulan.

Sebuah reaksi refleks universal, pada dasarnya untuk makanan namun juga diperluas pada obyek yang kurang nyata. Seluruh fitur dalam wajah menolak subyek yang memuakkan dengan cara menyempitkan (mata, hidung) atau menekan keluar (mulut).

  • Alis mata cukup tersimpul.
  • Mata menyempit atau separuh tertutup.
  • Kepala miring ke depan, melihat dari bawah alis.
  • Hidung berkerut.
  • Lubang hidung naik begitu tinggi hingga ujung hidung terdistorsi.
  • Garis sayap tergores dalam dan berada pada kondisi terpanjang.
  • Lidah, yang meniru tindakan muntah-muntah, mengisi banyak pada mulut.
  • Dagu berkerut.
  • Bibir atas kendur, bibir bawah keluar dan menekan ke atas, yang menghasilkan bentuk mulut ini.
  • Wajah lebih panjang dikarenakan mulut yang terbuka.

“Kamu berharap saya mempercayai itu?”

  • Sebuah pandangan kosong (mata mengantuk dengan kelopak lurus secara horizontal, pupil tertutup separuh) yang menyatakan kebosanan dan ketidakpercayaan (lihat “Penasaran” untuk mata waspada).
  • Salah satu alis terangkat adalah tanda universal dari skeptis.
  • Mulut bergerak ke bawah cukup untuk tidak merasa tertarik. (Ubah mulut ke atas menjadi senyum sudut dan ekspresi menjadi sinis).

“Tunggu saja, Henry Higgins tunggu saja…”

  • Kelopak mata bawah menutup lebih banyak dari bagian atas, yang membuat sebuah kantong dan mata melengkung ke bawah.
  • Mata menyempit seolah akan memicing!
  • Kerutan kesal dan rendah namun tidak mau lagi, menyimpan kemarahan untuk momen yang tepat.
  • Mulut mengatup sehingga itu tampak hampir tidak lebar dari hidung.

“Saya tidak senang dengan ini, namun saya tidak bisa lebih konfrontasional lagi tentang itu”. Lebih sering dilihat pada anak kecil, namun sebuah cibiran ringan merupakan reflek tanpa sadar ketika tidak setuju.

  • Pandangan mata menuduh dari bawah sebuah kerutan.
  • Bibir bawah menekan ke atas, yang terlihat lebih tebal dan mengubah mulut ke bawah; dagu tersimpul.
  • Kepala miring ke depan dengan kepasrahan tanpa sadar.

Kurang lebih merupakan kecewa tiruan yang seringkali hanya rasa lega yang dibuat-buat.

  • Muka masam dilemahkan oleh mata yang mengantuk dan pupil yang setengah tertutup: “Saya tidak benar-benar marah atau terluka.”
  • Mulut melengkung ke bawah, namun memuntir, juga menandakan bahwa itu tidak dianggap terlalu serius.

Memiliki karakter dengan fitur melengkung ke bawah. Semua cabang ini juga menunjukkan sebuah kemerosotan bahu.

“Meh.” Wajah hampir netral, dengan hanya sebuah petunjuk bahwa semuanya tidak baik-baik saja.

  • Salah satu sudut mulut ditekan, seolah berusaha senyum dan gagal.
  • Alis mata netral
  • Mata rileks, pupil bersinggungan.

Perbedaan utama dengan “Sedih” adalah di bagian mata, yang mana, secara perbandingan, lebih rileks dalam kemunduran. Ini adalah dampak dari kesedihan setelah beberapa waktu, dimana rasa sakit meredup namun belum terangkat.

  • Sebagai akibatnya, bagian iris lebih lebar dan paling tidak bersinggungan.
  • Alis bisa terkulai sedikit atau banyak.

Satu langkah di atas “Murung”, tidak ada energi tersisa bahkan untuk menjadi sedih. Kepasrahan telah berubah menjadi pengabaian tanpa harap.

  • Mata sedih dan mengantuk, iris sedikit tampak, pupil melebar. Mereka bisa tertutup, menutup diri dari dunia.
  • Kepala membungkuk atau bahkan menggantung.
  • Alis bisa hampir netral, seolah itu memakan terlalu banyak energi untuk mempertahankannya dalam posisi “sedih”.

Sebuah tampilan yang menyakitkan, penyebab kesedihan masih segar dalam pikiran. Semua fitur terkulai di bagian luar.

  • Alis mata naik dan saling mendekat, namun belum ada tegangan yang tampak di sini: ini adalah murni kesedihan tanpa rasa takut atau amarah.
  • Mata waspada (pada rasa sakit yang masih segar) namun kelopak atas miring ke bawah dan bisa menunjukkan penekanan yang berlipat. Pupil bebas.
  • Mulut melengkung ke bawah.
  • “Air mata bisu” mungkin mengalir ke pipi.

Terluka dan dalam kekacauan: tidak ada kepasrahan di sini namun keinginan yang kuat untuk membalikkan penyebab rasa sakit.

  • Alis mata naik terlalu banyak yang menyebabkan ketegangan.
  • Sangat mungkin diiringi air mata.
  • Bibir memisah seolah rasa sakit yang terlalu kuat dan tidak bisa ditampung.
  • Sudut mulut melengkung ke bawah dan bibir bawah menekan ke atas secara tanpa sadar namun adanya reaksi otot pra-tangis yang tidak bisa ditahan.
  • Pupil terbebas seiring melebarnya mata dalam rasa takut (ketidakmampuan untuk membatalkan rasa sakit)

Dihantam hingga pada titik air mata isakan yang kuat; ini menunjukkan distorsi wajah maksimum dalam cabang ini.

  • Mata dipaksa menutup atau hampir menutup sementara alis mata mengerut menekan ke bawah dan kelopak bawah menekan ke atas.
  • Tegangan membuat lipatan horizontal pada dahi.
  • Air mata begitu berlimpah mengalir dari kedua sudut mata.
  • Kejang otot pada bibir bawah semakin memburuk.
  • Wajah memerah.
  • Lubang hidung melebar.
  • Dagu gemetar.

Ekspresi ini nyata pada orang dewasa dalam rasa sakit fisik, namun untuk respon anak kecil lihat “Menangis” Fitur meregang sebanyak mungkin – regangan bisa melegakan dengan menjauhkan fokus perhatian dari rasa sakit.

  • Alis menekan ke bawah pada mata, kepala berpusing ke atas dalam rasa sakit.
  • Bibir bawah menekan ke atas sementara mulut tertarik kuat ke bawah, yang menampilkan gigi yang mengatup dan bahkan gusi bawah.
  • Mata tertutup atau menyempit.
  • Hidung berkerut.
  • Bibir atas terangkat.
  • Garis seperti tanda kurung di sekitar mulut merupakan karakteristik bentuk dan tegangan ini.

Bagi anak-anak, kekecewaan adalah kesedihan murni, namun bagi orang dewasa kesedihan diwarnai dengan celaan.

  • Bibir mengatup (untuk menahan celaan), mulut mungkin bergerak ke samping, seolah menyembunyikan katupan.
  • Alis menunjukkan campuran kesedihan dan memberengut.
  • Mata waspada, pupil bersinggungan.

Kombinasi kemarahan dan keinginan untuk menangis.

  • Alis mata mencoba mengkerut dan naik pada saat yang sama, menyimpul dan memaksa alis ke dalam garis yang hampir lurus.
  • Mulut cemberut namun tegangan dikonsentrasikan dalam alis karena otak berusaha keras mencari solusi.

Ketika terlalu banyak hal menyerang pikiran, keseluruhan wajah menyempit seolah mau mempertahankannya di dalam, atau mungkin menghambat dunia luar sementara mencari tahu cara menanganinya.

  • Alis menekan ke bawah pada mata, dalam kerutan penuh, namun kepala sedikit mengarah ke atas untuk mempertahankan jejak rasa sakit.
  • Mata memiring mengikuti muka masa, sudut di dalam terkulai.
  • Bibir mengatup, yang mendorong mulut ke atas.
  • Hidung mengkerut sementara wajah mengerkah terhadap itu sendiri, bahkan bibir sedikit naik ke atas.
  • Mulut yang bergelombang menunjukkan ketidakpastian (“Mulai dari mana? bagaimana cara menangani ini?”

Mendekati “Frustrasi”, namun dengan lebih sedikit marah dan lebih banyak rasa takut.

  • Kepala alis seperti dalam “Frustrasi”, namun terjadi lengkungan, yang membuat alur pada dahi.

“Rusa dalam lampu sorot.”

  • Mata melebar dengan pupil yang meregang merupakan fitur utama, yang menatapi ancaman.
  • Alis mata naik.
  • Mulut meregang dalam kegugupan.
  • Dalam rasa takut tangan menggenggam sesuatu, yang membuat tendon tampak kelihatan.

Semua fitur terbuka seiring memucatnya kulit dan diangkatnya tangan.

  • Mata sangat bulat, dengan pupil berbentuk titik. Ini menangkap momen awal pecahnya teror, namun perhatikan bahwa setelah momen awal ini, pupil melebar untuk melihat dengan lebih baik, walaupun mata terbuka lebar. Ini membuat tampilan ngeri, dan terkadang bengis karena panik mendalam.
  • Garis sayap hidung muncul.
  • Alis mata tinggi dan bersimpul.
  • Teriakan horor melengkungkan bibir bawah ke bawah, yang menampakkan gigi bawah.

Ini juga mengungkapkan rasa malu menengah, berlawanan dengan “Malu” tingkat ekstrim. Anak-anak kecil menunjukkan rasa malu dengan memiringkan kepala menuju bahu sambil menaikkan bahunya.

  • Kepala dimiringkan ke depan dan ditarik ke dalam bahu seolah ingin bersembunyi seperti seekor kura-kura.
  • Rona menyebar di sepanjang wajah, telinga dan leher.
  • Seringai yang dipaksa karena rasa malu: sudut-sudutnya meregang ke samping alih-alih ke atas.

Diekspresikan dengan mencoba untuk tidak mengekspresikannya, dengan kata lain untuk membuat semua ekspresi wajah menghilang.

  • Menatap ke bawah dan sering kali memalingkan wajah, seolah kontak mata akan membocorkan rahasia seseorang. Kepala cenderung dipalingkan.
  • Wajah tanpa ekspresi, mencoba sekecil mungkin menarik perhatian.
  • Fitur tampak mengecil.

“Ya Tuhan andai saja saya bisa ditelan bumi sekarang ini!” Emosional ini diekspresikan dalam mata, sementara bagian wajah lainnya tetap mencoba agar tidak diketahui.

  • Mata bulat melotot yang menatap ke bawah dan menjauh; kepala pasti berpaling, cenderung pada arah berpaling.
  • Bibir bawah menekan ke atas dalam kecemasan.

Kita jarang mengekspresikan perasaan melalui wajah saja: keseluruhan tubuh merupakan tempat bagi gestur bawah sadar. Menggunakannya akan membuat karaktermu tampak tidak kaku dan jauh lebih natural. Tangan biasanya ekspresif, dan gestur tangan telah disebutkan pada ekspresi yang relevan. Berikut beberapa postur tubuh yang umum dan menyolok yang pasti digunakan illustrator:

Telapak tangan di pingggang, jari menghadap depan, sikut melengkung keluar:

  • Tanda percaya diri klasik
  • Menunjukkan badan siap untuk beraksi, berkerja dll
  • Memperbesar badan atas, membuat seseorang tampak lebih bertenaga dan mengancam dalam sebuah konfrontasi (atau ketika melarang anak kecil)
  • Juga berarti “Menjauh dari saya, saya merasa anti-sosial.”
  • Perhatikan bahwa ketika jempol mengarah ke depan, postur lebih feminim dan menandakan ketidakpastian daripada sikap agresif.
  • Gaya defensif klasik
  • Ketidaksetujuan, menutup diri pada input, arogansi, ketidaksukaan. Wanita tidak melipat lengan di sekitar pria yang mereka sukai.
  • Postur menyamankan diri, digunakan untuk meringankan kecemasan dan stress sosial.
  • Lengan dan sikut ditarik ketat dalam tubuh menandakan kegugupan akut.

Kita secara tidak sadar menyentuh badan kita sendiri untuk merasa nyaman atau melepas stress. Kebingungan, ketidaksetujuan, frustrasi, ketidakpastian terkumpul dalam jemari yang menyentuh bibir, tangan yang menggaruk kepala, memegang leher, memegang cuping, menggaruk pipi, menggosok tangan lainnya, dll. Manipulasi diri meningkat dengan stress dan ketidaksetujuan.

Itu sangat efektif untuk menunjukkan kemarahan yang ditekan melalui petunjuk ini, karena mereka seringkali menjadi cara dalam menggantikan sikap agresif.

Perhatikan bahwa untuk anak kecil, tangan dibalik kepala bisa berarti cemburu.

Mengejutkan betapa banyak orang yang tidak tahu cara menunjukkan sebuah emosi bahkan jika mereka telah menjalaninya berulang-ulang. Obat untuk itu adalah mengamati dirimu sendiri dari dalam. Jika kamu bisa memancing emosi dalam dirimu dengan cara apapun (sebuah film sedih atau lucu, memikirkan permasalahan yang membuatmu marah, menonton video anak kucing, apapun yang bisa kamu pikirkan), tonton dengan seksama, baik dari dalam dan pada sebuah cermin, bagaimana wajahmu berubah karena itu (dan apapun yang mungkin terjadi pada tubuhmu). Lebih baik dari dalam, ketika kamu terbiasa dengan itu, karena melihat pada cermin bisa merenggutmu keluar dari perasaan itu. Sebagai alternatif, amati dirimu sendiri dan/atau orang lainnya dalam situasi emosional real-time. Kita melalui banyak hal ini setiap harinya; menjadi pengamat sepanjang waktu.

Latihan ini pernah menjadi meme untuk beberapa saat, namun itu merupakan latihan yang bagus dan menyenangkan: Buat sebuah lembar emosi untuk karakter favorit (buatanmu sendiri atau karakter yang sudah ada), dengan sejumlah ekspresi tertentu untuk diisi. Agar kamu tidak tertarik dalam zona nyaman, pilih mereka dengan metode acak (seperti menunjuk dengan mata tertutup). Kamu bahkan bisa melangkah lebih jauh dan mencoba memadukan ekspresi atau yang lebih kompleks lagi yang tidak dipelajari di sini.

 

 

 

 

 

 

 

 

sumber : design.tutsplus.com

Latest articles

12.6k Followers
Follow

Related articles