Apakah Style Menggambar Itu Penting? Yuk Cari Tahu!

Kalian sedang bertanya-tanya, pentingkah art style atau ciri khusus pada gambar kalian? Yuk kita simak pembahasan yang dilakukan oleh byputy, salah satu ilustrator buku ini!

Beberapa kali saya (byputy), mendapat DM di Instagram berupa request pembahasan topik seputar dunia ilustrasi. 3 hal yang paling banyak diminta adalah: soal style gambar, memberi harga untuk karya / pekerjaan kita, dan soal self marketing. Sejujurnya, seperti yang sudah beberapa kali saya bilang, saya suka nggak PD membahas ini, karena menurut saya banyak ilustrator / komikus / visual artist yang sudah jauh lebih berpengalaman dan mumpuni untuk berbagi. Namun saya pikir, nggak ada salahnya sharing dalam bentuk cerita pengalaman pribadi, hehehe. Oleh karena itu, di sini saya akan kasih disclaimer dulu, bahwa tulisan ini didasari oleh pengalaman saya sendiri dan beberapa sumber yang nanti akan saya cantumkan tautannya yaa 🙂

Apakah setiap orang pasti punya style gambar masing-masing?

Beberapa teman pernah bilang ke saya, “Put, gambar lo tuh khas banget ya. Kalau udah kenal, pasti bisa tau ini gambar byputy.” I personally took it as a compliment, setidaknya karena teman-teman saya peduli dengan hasil karya saya :’))) Namun kalau di lihat dari sudut pandang lain, bisa jadi artinya saya nggak cukup banyak eksplorasi dan nggak banyak berkembang dalam menggambar. Well, dan memang saya akui bahwa satu-dua tahun ini saya nggak banyak latihan, apalagi eksplorasi gaya baru.

Percaya atau enggak, gaya gambar saya ini sudah ada sejak saya kelas 5 SD, yup si muka tembem dan ‘ginuk-ginuk’ ini. Namun berhubung saya nggak punya dokumentasi gambar-gambar lama saya, jadi inilah yang terlama yang saya bisa ingat masih ada, yaitu gambar tahun 2009 waktu kuliah :’D

style gambar

Jadi kalau menurut saya nih, style gambar itu bukan sesuatu yang ujug-ujug ada, bukan diturunkan atau diwariskan. We’ve got to develop it ourselves. Kalau dari pengalaman saya pribadi, untuk ‘menemukan’ atau memantapkannya ya harus dengan konsistensi. Makin kesini, saya semakin rutin menggambar dan sudah menemukan style / gaya gambar yang menurut saya bisa merepresentasikan diri saya.

Kembali ke pertanyaan ‘apakah setiap orang pasti punya style masing-masing?’, menurut saya nggak.

Apakah kalau ‘nggak punya syle tertentu’ berarti tidak berbakat / atau tidak jago / atau bukan seniman yang baik? Tentu saja tidak kan. Bisa jadi malah sangat berbakat, sangat eskploratif, dan sangat passionate. Saya menemukan tulisannya Kyle T Webster (Adobe Design Team. Artist for The New Yorker, TIME, NY Times, etc.) yang menceritakan soal bekerja sebagai ilustrator dengan style yang beragam. Ada 3 keuntungan dari memiliki banyak gaya dalam berkarya yang dia sebutkan di tulisannya:

  1. Tawaran kerjaan yang lebih banya
  2. Market yang lebih luas
  3. Kepuasan pribadi dalam bereksplorasi

Nah, bisa jadi kita tipe seperti Kyle atau ya memang belum ‘ketemu’ karena belum cukup konsisten mengembangkannya.

Apa yang mempengaruhi?

Setelah bicara konsistensi berkarya, apa sih yang mempengaruhi gaya gambar seseorang? Menurut saya, kalau bicara soal ‘pengaruh’, maka setidaknya ada 2 jenis: dari diri sendiri dan dari luar. Kalau dari diri sendiri bisa personalityperasaanselera, atau kemampuan teknis dalam menggunakan suatu medium. Kalau pengaruh dari luar bisa jadi soal karya seni yang kita lihat, artists yang kita ikuti di media sosial, buku yang kita baca, film yang kita tonton, dll. Sedikit banyak ini berhubungan dengan ‘selera’ sih, tapi kan bagaikan telur dan ayam; selera akan mempengaruhi apa yang kita lihat, dan apa yang kita lihat juga dapat mempengaruhi selera kita.

Teman-teman yang suka komik Jepang mungkin ‘ngeh’ kalau style saya adalah style ‘chibi’nya komik Jepang. Ini tentu saja pengaruh dari komik dan anime Jepang yang saya tonton serta obsesi saya mengoleksi pernak-pernik dan alat tulis Korea yang gemas-gemas sejak kecil. Saya juga memperhatikan bahwa kecenderungan saya memakai satu jenis warna saja dalam satu bidang juga tercermin dalam gaya berpakaian saya dan usaha saya untuk menghindari hal-hal yang terlalu ‘ribet’. Entahlah ini saintifik atau nggak, tapi kalau dari tulisan tangan seseorang saja kita bisa menebak dirinya, apalagi kalau gambar kan? hehehe.

style gambar

Jadi bisa berubah dong?

Tentu bisa. Saya PD ngomong begini karena contoh nyatanya terkenal banget: Pablo Picasso. Mengutip tulisan di mymodernmet.com ini, selama hampir 80 tahun kiprahnya sebagai seniman, karya-karya Picasso terbagi menjadi beberapa periode yang stylenya beda-beda: ‘early work, Blue Period, Rose Period, African Period, Cubism, Neoclassicism, Surrealism, and later work’. Silakan dibaca artikelnya atau googling-googling soal periode dan gaya berkarya Picasso ini yaaa 😀

Kembali ke pengalaman pribadi saya, style gambar saya nggak banyak berkembang tapi tetap ada perubahan. Salah satu perubahan yang saya pribadi rasakan adalah akibat pergantian metode dari manual (awal – akhir di kertas lalu discan), semi-digital (awalnya di kertas, lalu discan kemudian finishing secara digital), hingga sekarang mulai dari sketch sampai finishingnya digital.

Ini adalah salah satu contoh gambar saya tahun 2015, waktu metodenya semi digital.

style gambar

Selain metode, saya rasa masih banyak pengaruh-pengaruh lain yang sudah saya sebutkan di atas yang cepat atau lambat mengubah style gambar seseorang.

Pentingkah?

Jadi penting nggak sih punya style / ciri khas gambar khusus? Hmmm, menurut saya tergantung tujuan masing-masing orang. Seperti Mas Kyle yang sudah saya sebutkan tadi, dia memiliki banyak style dan sukses banget sebagai ilustrator. Namun banyak ilustrator favorit saya yang KHAS BANGET karyanya, misalnya Fran MenesesGemma Correll, atau Anna Rifle Bond. Menurut saya, karakter mereka sangat kuat sehingga berpengaruh ke ‘branding’ karya / diri mereka. Bagi para penggemar mereka, sekali lihat saja sudah cukup untuk mengenali, “Oh ini karya si ini, ini karya si anu.”

style gambar

Contoh gambar Fran Meneses (sumber: IG @frannerd)

Kalau menurut saya sih, style yang khasstory telling yang menjual, dan konsistensi berkarya merupakan bekal penting bagi seorang ilustrator. Namun ya itu tadi; potential client akan lebih terbatas, artinya kalau yang ‘cocok’ ya ‘cocok banget’, kalau yang ‘nggak cocok’ ya ‘babay’. Heheh.

Nah, makanya saya bilang kembali ke masing-masing orang tujuannya apa 🙂

Cara menemukan / mendevelop style gambar

Oke, jadi gimana caranya menemukan atau mendevelop style gambar?

  1. Cari referensi & inspirasi sebanyak-banyaknya. Lihat buku, baca majalah, scrolling Instagram, cek-cek Behance, nonton film-film kartun, dst.
  2. Awal-awal, kita akan cenderung ‘meniru’ alias ‘copying’, but that’s okay. Saya juga dulu belajar gambar kepala ya nyontoh poninya Sailormoon. Namun kalau kita banyak referensi dan banyak latihan, kita akan ‘mengadopsi’ elemen-elemen yang kita suka dari berbagai contoh, lalu ‘mengombinasikannya’ 🙂
  3. Latihan kemampuan secara teknis. Jujur untuk poin ini saya masih kurang banget, apalagi saya nggak punya background sekolah seni. Pusing banget kalau disuruh gambar perspektif, anatomi, nirmana, nirmala, nirwana, dst dst :’)))
  4. Master your (favorite) weapon. Walaupun ada banyak metode dan media yang menarik untuk dieksplorasi, coba konsisten menggunakan satu metode / media dulu untuk mengembangkan style kita.
  5. Keep practicing it. Menurut saya nggak ada yang lebih ampuh dari learning by doing and be consistent 🙂 Dengan konsisten berlatih, kita akan semakin terbiasa mengenali diri dan karya kita (elemen apa yang sering atau selalu muncul di karya kita, warna-warna apa yang paling kita suka, dst) Selain itu, tetap berlatih dan konsisten berkarya akan membuat orang di sekitar kita ‘mengenalnya’. Oh, ini gambarnya si A, ini stylenya si B banget, dst.

Oh iya, saya juga menemukan 2 artikel WikiHow yang sesuai untuk pertanyaan ini, silakan dicek 🙂

style gambar

Oke, sekian dulu yaaa sharing dari saya 🙂 Mudah-mudahan bermanfaat!

 

 

 

 

 

 

 

 

sumber : told.byputy.com (dengan pengubahan)

Latest articles

12.6k Followers
Follow

Related articles