Melawan Stigma Negatif dengan Seni: Muslimah Saba Barnard

Adalah Saba Barnard, seniman Pakistan-Amerika, yang berhasil memadukan frasa Technicolor dengan medium seni lukis untuk membuat pernyataan penting terkait problem rasial terhadap kelompok Muslim di Amerika Serikat. Lewat seri lukisan Technicolor Muslima, Saba berusaha mengubah pandangan negara barat terhadap Muslimah AS pasca tragedi 9/11 melalui potret warna-warni yang memukau.

Dok. Noor Iskander

Seperti yang diungkapkan Daniel Rivero untuk Splinter, sementara sebagian teman-teman sekelasnya diam-diam pergi ke luar rumah sembari membawa rok pendek untuk dipakai, Saba mengenakan jilbab untuk dikenakan sebelum tiba di sekolah.

Saba ialah wanita berkulit gelap dan berambut tebal yang menggemari hidangan kari; tidak pernah pergi ke luar rumah mengenakan rok mini dan tidak mengonsumsi babi. Seiring waktu, Saba menyadari bahwa gaya hidupnya berbeda dengan teman-teman sepantarannya. Semenjak kecil, Saba telah dihadapkan dengan istilah “yang-lain”; ia menjadi contoh atas istilah perbedaan di sekolahnya yang terletak di North Carolina.

Selama bertahun-tahun, Saba memaksa dirinya untuk membaur dengan lingkungan sekitar. Ia tumbuh di keluarga Pakistan yang cenderung tidak menginginkan seorang wanita tampak menonjol. Keluarganya tak ingin Saba mengenakan jilbab, mengingat stigma buruk yang biasa melekat di kepala masyarakat blok barat. Namun bagi Saba, sepotong pakaian tersebut memberikan rasa kepemilikan. Dan semenjak peristiwa 9/11, Saba jadi merasa bertanggung jawab untuk menunjukkan sisi Muslim yang lebih positif. Dalam pikirannya, jika dengan memakai jilbab sedikit demi sedikir orang di sekitarnya dapat melihat sisi lain dan menjadi contoh yang baik, Saba akan melakukannya.

Keinginan dan rasa tanggung jawabnya untuk mengubah cara berpikir orang di sekitar tentang penganut ajaran Islam inilah yang menggerakkan karier Saba sebagai seorang seniman. Lewat karyanya yang menggambarkan sosok wanita Muslim kuat, Saba berhasil mengadakan pameran di galeri kota asalnya, Raleigh, North Carolina, pada sebuah pertunjukan di World Islamic Economic Forum London tahun 2013.

Seri lukisannya yang berjudul “Technicolor Muslima” menghadirkan pandangan baru terhadap kehidupan seorang Muslim kepada mereka yang mengenal Islam dari penggambaran media arus utama. Dalam pandangan Saba, kebanyakan media arus utama cenderung menggambarkan wanita Muslim sebagai penurut dan tampak seragam. Perlakuan modern terhadap topik Muslim dalam seni dan media sendiri hampir selalu muncul bersamaan dengan kontroversi relijius dan politik. Topik Muslim dan perdebatan hangat seputarnya hampir selalu diberi label “eksotis”.

Meski konflik yang muncul dari pandangan tersebut sangat nyata, seringkali media visual dan “Muslim art” enggak berupaya mengurangi persepsi terhadap para Muslim sebagai obyek eksotis, “yang-lain”, dan homogen. Penggambaran ini langgeng dilestarikan oleh banyak orang hingga muncul anggapan bahwa negara Timur sangatlah bertolak belakang dari paham negara Barat. Penggambaran ini, menurut Saba ketika menjabarkan Technicolor Muslima sebagai salah satu esai yang dapat dibaca di Gender & Women’s Studies, Second Edition: Critical Terrainsepenuhnya merupakan kelakar.

Saba secara jelas mengungkapkan jika Islam bukanlah sebuah kotak yang kecil. Islam tidak hanya satu dimensi; begitupun dengan orang-orang yang memiliki identitas sebagai seorang Muslim. Oleh karenanya, Saba memilih untuk melukis potret-motret Muslim Amerika yang penuh warna langsung dari kacamatanya, sebagaimana yang ia tahu semenjak kecil; berani dan bersaturasi tajam seperti layaknya terobosan teknologi Technicolor yang pernah menggebrak dunia perfilman bertahun-tahun silam.

Kepada Splinter, Saba Barnard mengungkapkan selagi ia membuat potret manusia yang menunjukkan beragam lapisan identitas, ia berupaya untuk menekankan identitas “Amerika” dan “modern” tanpa menghapus identitas Muslimnya. Bagi Barnard, membangun hubungan dengan sesama lewat seni dan budaya adalah tujuan hidupnya.

“Lewat budaya, kamu memberikan masyarakat sebuah suara. Ketika kamu memisahkan orang dari budaya, tindakan itu tidak manusiawi; seolah-olah orang tersebut tidak memiliki suara, seolah-olah mereka tidak punya apa-apa untuk disampaikan,” tutur Barnard.

Selain Technicolor Muslima, Saba Barnard yang juga dengan bangga memperkenalkan diri sebagai seorang queer Muslim, aktivis dan seniman visual lintas media ini telah membuat berbagai karya lukis menakjubkan lainnya seperti An-Noor, Queer serta beberapa karya penting lainnya. Semua karya Saba Barnard bisa kamu cek langsung di website resminya.

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: crafters.getcraft.com

Latest articles

12.6k Followers
Follow

Related articles