Warning: getimagesize(): http:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/yfzbjhce/indonesiamendesain.com/wp-content/plugins/td-cloud-library/shortcodes/header/tdb_header_logo.php on line 792

Warning: getimagesize(http://indonesiamendesain.com/wp-content/uploads/2020/09/Screen-Shot-2020-07-16-at-13.07.54-300x136.png): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/yfzbjhce/indonesiamendesain.com/wp-content/plugins/td-cloud-library/shortcodes/header/tdb_header_logo.php on line 792

Warning: getimagesize(): http:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/yfzbjhce/indonesiamendesain.com/wp-content/plugins/td-cloud-library/shortcodes/header/tdb_header_logo.php on line 792

Warning: getimagesize(http://indonesiamendesain.com/wp-content/uploads/2020/09/Screen-Shot-2020-07-16-at-13.07.54-300x136.png): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/yfzbjhce/indonesiamendesain.com/wp-content/plugins/td-cloud-library/shortcodes/header/tdb_header_logo.php on line 792

Analisis Karya Terkenal Yayoi Kusama yang Terkenal dengan Polkadotnya

- Advertisement -

Karya-karya Penting dari Yayoi Kusama

- Advertisement -
- Advertisement -

Pengulangan yang obsesif terus menjadi tema dalam seni patung dan instalasi Kusama, yang mulai dipamerkan pada awal 1960an. Tema kecemasan seksual banyak terkait seperti pada karya Sex Obsession Food Obsession Macaroni Infinity Nets & Kusama.

Sex Obsession Food Obsession Macaroni Infinity Nets & Kusama (1962)

Sex Obsession Food Obsession Macaroni Infinity Nets & Kusama (1962)
Sex Obsession Food Obsession Macaroni Infinity Nets & Kusama (1962), Karya Yayoi Kusama. Macaroni, Cat, Fotografi. (Gambar asli diperoleh melalui pinterest).

Deskripsi dan Analisis Singkat

Dalam karya ini, terlihat Yayoi Kusama berpose tanpa busana dan dipenuhi oleh polka dot disekujur tubuhnya. Dia juga dikelilingi oleh pasta makaroni yang membentuk pola pengulangannya yang menjadi ciri khas karyanya sampai sekarang. Dengan memasukkan dirinya ke dalam potongan karya, secara harfiah Kusama meletakan dirinya sendiri di atas sebuah benda yang mewakili manifestasi keengganan seksualnya, Kusama mencoba untuk menumbangkan ketidaknyamanannya sendiri dan pada dasarnya; menaklukkan ketakutannya. Presentasi berani atas dirinya sendiri dalam dialog fisik dengan ketakutannya, menempatkan Kusama sebagai salah satu seniman pergerakan seni feminis yang berkembang saat itu.

Narcissus Garden (1966)

Narcissus Garden (1966) artefak performance art, Karya Yayoi Kusama. 1600 bola stainless steel (Foto oleh: emc, CC BY-NC-ND 2.0).
Narcissus Garden (1966) artefak performance art, Karya Yayoi Kusama. 1600 bola stainless steel (Foto oleh: emc, CC BY-NC-ND 2.0).

Deskripsi dan Analisis Singkat

Narcissus Garden adalah eksperimen performance art sukses pertama Kusama. Meskipun tidak secara resmi diundang untuk mewakili Jepang pada Biennale Venesia ke 33 atau diberi izin untuk berpartisipasi, namun Kusama menempatkan 1.600 bola berwarna stainless steel di halaman dekat Paviliun Italia. Bola krom berdiameter dua belas inci itu disusun rapat, menciptakan medan reflektif tak terbatas yang mendistorsi refleksi alam atau apapun yang ada di sekitarnya. Permukaan bola tersebut mengasosiasikan mitos Yunani: Narcissus yang terobsesi oleh wajahnya sendiri dalam refleksi kolam, hingga menyebabkan dia tenggelam. Melalui karya ini, pemirsa seakan dipaksa untuk menghadapi kesia-siaan mereka sendiri saat melihat bayangan terdistorsi mereka di permukaan bola.

Narcissus Garden (1966) artefak performance art, Karya Yayoi Kusama. 1600 bola stainless steel (Foto oleh: emc, CC BY-NC-ND 2.0).
Narcissus Garden (1966) artefak performance art, Karya Yayoi Kusama. 1600 bola stainless steel (Foto oleh: emc, CC BY-NC-ND 2.0).

Kusama juga memasang dua tanda pada instalasi yang bertuliskan: “NARCISSUS GARDEN, KUSAMA” dan “NARCISSIUM FOR SALE”. Selama minggu pembukaan Biennale, Kusama menjajakan bola seharga dua dolar tersebut, sembari membagikan selebaran dengan ucapan teriakan Herbert Read tentang karyanya. Sementara dia menjajakan barang dagangannya, Kusama mengenakan kimono emas dengan seakan membanggakan “kehebatannya” sebagai orang asing disana (asosiasi kimono sebagai simbol Jepang), dan menyoroti keinginan akan ketenaran yang akan dicari Kusama sepanjang hidupnya.

Karya instalasi tersebut tetap berlangsung selama masa Pameran Biennale meskipun petugas pameran mencoba menghentikannya. Seperti yang dikatakan sejarawan seni Danielle Shang, karya tersebut telah ditafsirkan oleh banyak orang baik sebagai promosi diri Kusama dan bentuk protesnya terhadap komersialisasi seni.

Yayoi Kusama menjajakan bola-bola berwarna krom pada pengunjung.
Yayoi Kusama menjajakan bola-bola berwarna krom pada pengunjung. (gambar diperoleh melalui: play.qagoma.qld.gov.au)

Pumpkin (1994)

Pumpkin (1994), Karya Yayoi Kusama
Pumpkin (1994), Karya Yayoi Kusama. Akrilik dan kemarik. (Gambar diperoleh dari thearstack.com).

Deskripsi dan Analisis Singkat

Labu adalah salah satu formula pertama Kusama untuk karya patung. Dibuat khusus untuk Benesse Art Site di Pulau Naoshima, Jepang, patung labu kuning raksasa itu dilukis dengan deretan titik-titik hitam berirama yang melebar dari besar ke kecil di sekitar labu. Bentuk labunya tampak bergaya kartun, menyoroti betapa anehnya dunia alami/non modern ketika ditampilkan di dunia berbudaya modern. Dibuat saat ia tinggal di Jepang, karya tersebut juga mencerminkan pergeseran praktik seni Kusama dari karya-karyanya yang sebelumnya agresif dan bermuatan politik menjadi lebih kitsch/remeh/kasual. Pergeseran ini dapat dikaitkan dengan transisi dalam budaya Jepang dari yang kaku dan militeristik menjadi penuh dengan budaya populer kartun (manga, anime, dll).

Kusama juga menggambarkan motif labu sebagai alter ego, menekankan bagaimana karya dan identitasnya terjalin secara intrinsik. Ide mengangkat buah labu berasal dari masa kecilnya. “Pertama kali saya melihat labu adalah ketika saya masih di sekolah dasar, di ladang kakek saya saat panen besar … tampaknya labu adalah buah yang tidak begitu dihiraukan oleh orang-orang, tapi saya terpesona dengan bentuknya yang menawan.” Kusama telah menghabiskan seluruh hidupnya membongkar identitas dirinya dan membebaskan diri melalui berbagai praktik seninya, dan labu berpola polka dot merupakan ungkapan lainnya dari usaha tersebut.

Infinity Mirrored Room – The Souls of Millions of Light Years Away (2016)

Infinity Mirrored Room- The Souls of Millions of Light Years Away (2016), Karya Yayoi Kusama. Kayu, logam, cermin kaca, plastik, panel akrilik, karet, sistem lampu LED, bola akrilik dan air. (gambar diperoleh melalui thebroad.org)
Infinity Mirrored Room- The Souls of Millions of Light Years Away (2016), Karya Yayoi Kusama. Kayu, logam, cermin kaca, plastik, panel akrilik, karet, sistem lampu LED, bola akrilik dan air. (gambar diperoleh melalui thebroad.org)

Deskripsi dan Analisis Singkat

Kusama memulai seri Infinity Mirror Room di tahun 1960an, dan sejauh ini telah menciptakan dua puluh ruangan yang berbeda. Ruang-ruang tersebut adalah puncak dari akumulasi lukisan perulangan, patung-patung, dan instalasi yang selama ini ia gali dalam bentuk iterasi yang paling baru. Setiap ruangan terdiri dari ruang gelap yang dilapisi cermin.

Di masa lalu, Kusama mengisi ruangan tersebut dengan labu, lentera, dan lain-lain. Sementara pada karya ini dia mengisinya dengan lampu LED kecil yang digantung dari langit-langit dan berkedip-kedip dalam pola berirama. Selain tampak seperti pemandangan luar angkasa, lamput itu juga menciptakan titik-titik yang berpola polka dot. Lampu yang dipantulkan oleh cermin di ruangan tersebut menciptakan ilusi ruang tak berujung.

Ruang yang tenang merupakan refleksi kehidupan dan insting kematian – tema yang telah mempengaruhi Kusama sejak masih kecil. Dia menjelaskan bahwa karyanya “berperang di batas antara hidup dan mati, mempertanyakan siapa kita dan apa artinya hidup dan mati”. Dengan mendorong pengunjung untuk merenungkan keberadaan mereka, karya Kusama menekankan keterkaitan yang kita miliki satu sama lain dengan alam semesta. “Dengan menggunakan cahaya dan refleksi cermin mereka sendiri, saya ingin menunjukkan citra kosmik di luar dunia tempat kita tinggal”.

Sekarang dalam usianya yang mencapai dasawarsa kesembilan dia telah menerima ketidakabadiannya (imortalitasnya) sendiri. Karya tersebut mewakili aspirasi yang lebih harmonis oleh Yayoi untuk kedamaian yang ada di dalam (hati). Dengan kenyataan yang berada di luar (konteks sosial diluar diri sendiri). Karya tersebut dipandang oleh kritikus sebagai wujud yang lebih dewasa dari karya awalnya, yang berusaha untuk melawan daripada mendamaikan.­­­­­

Sumber: serupa.id

- Advertisement -

Latest articles

7,350 Followers
Follow

Related articles