Warning: getimagesize(): http:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/yfzbjhce/indonesiamendesain.com/wp-content/plugins/td-cloud-library/shortcodes/header/tdb_header_logo.php on line 792

Warning: getimagesize(http://indonesiamendesain.com/wp-content/uploads/2020/09/Screen-Shot-2020-07-16-at-13.07.54-300x136.png): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/yfzbjhce/indonesiamendesain.com/wp-content/plugins/td-cloud-library/shortcodes/header/tdb_header_logo.php on line 792

Warning: getimagesize(): http:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/yfzbjhce/indonesiamendesain.com/wp-content/plugins/td-cloud-library/shortcodes/header/tdb_header_logo.php on line 792

Warning: getimagesize(http://indonesiamendesain.com/wp-content/uploads/2020/09/Screen-Shot-2020-07-16-at-13.07.54-300x136.png): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/yfzbjhce/indonesiamendesain.com/wp-content/plugins/td-cloud-library/shortcodes/header/tdb_header_logo.php on line 792

Naufal Abshar: Pelukis Indonesia yang Go Internasional

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Bakat dan kecintaan Naufal Abshar pada kegiatan menggambar sebetulnya telah terlihat sejak kecil. Saat duduk di bangku taman kanak-kanak, pemuda kelahiran Bandung, 13 Juli 1993, itu mengaku hobi mencoret-coret kertas.

Semua hasil karyanya kemudian dilaminating dan dijadikan taplak meja oleh sang ibu. Hal ini pun terus berlanjut ketika memasuki sekolah dasar.

Hampir setiap pelajaran di kelas, ia tak pernah memperhatikan gurunya. Semua dihabiskan untuk menggambar, mulai dari buku, meja bahkan hingga kertas ujian.

“Banyak guru enggak suka. Yah, namanya juga anak-anak,” kata Naufal dalam keterangan tertulis yang diterima VIVA.

Meski demikian, kegemarannya terhadap dunia menggambar seakan tidak terbendung. Kecintaannya tersebut kemudian membawanya ke jalan yang tidak direncanakan sebelumnya: jurusan fine arts. Orangtuanya khawatir, mengerutkan dahi atas pilihan sang anak.

Memang beberapa orangtua melihat bahwa menjadi seniman atau pelukis di Indonesia tidak terlalu menjanjikan masa depan dalam berkarier.

“Biasanya kan seniman itu rambutnya gondrong, aneh dan ada banyak stereotip lainnya. Jadi mereka takut, tapi ini sesuatu yang aku ingin lakukan dari hati aku sendiri,” ujarnya.

Selepas SMA, Naufal mendaftar dan diterima di Lasalle College of the Arts, Singapura. Dan di negeri inilah, cerita tentang bagaimanapassion-nya sebagai seorang seniman dimulai.

“Aku mau sukses, jadi harus keluar dari zona nyaman. Kenyamanan bisa membunuh kita. Sebelumnya aku tidak pernah keluar dari rumah dengan fasilitas yang nyaman,” kata dia.

Selama kuliah, dia mengaku tinggal di asrama, dan membatasi uang saku, serta harus belajar menghasilkan uang. Baginya, Singapura adalah batu loncatan.

Hingga pada Februari 2017, Naufal mengadakan pameran solo di Art Porters, sebuah galeri seni di Singapura, dengan membawa tema “Is This Fate?”. Dia bekerja sama dengan seorang kurator dari Israel untuk pamerannya itu.

Sekembalinya ke Tanah Air, dia juga terus melaju dengan menyuguhkan karya-karya kontemporernya. Dalam memasarkan lukisan-lukisannya, Naufal juga bekerja sama dengan sebuah konsultan seni selain mengadakan pameran.

Pada Oktober 2017, karya-karya Naufal juga hadir di World Trade Centre Jakarta dalam rangka memperingati 50 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Singapura. Salah satu karyanya yang menarik perhatian berjudul Merlion, sosok singa yang merupakan simbol Singapura.

Dalam lukisan ini, Naufal mengekspresikan pengalamannya tinggal di negara tetangga tersebut melalui sebuah karya kontemporer yang unik. Menurutnya, seniman seharusnya tidak hanya bersembunyi di belakang panggung atau di studio tapi bisa berbicara ke banyak orang.

Sumber: viva.co.id

- Advertisement -

Latest articles

7,350 Followers
Follow

Related articles