Bercerita lewat Foto, Romi Perbawa Menghidupkan Kisah Manusia

Ditemui pada sebuah acara fotografi di Jakarta, pembawaanya bersahaja, bersuara pelan tetapi berat dan berwibawa. Kaos oblong, celana jins dan topi ember (hat bucket) menjadi bagian identitasnya. Yang membuat ia mewah karena mencangklong kamera Leica Q, kamera saku premium seharga Rp 69 juta.

“Ini kamera kedua saya. Kamera pertama saya Leica M9. Bedanya, M9 untuk lensa 35mm, ini 28mm,” kata Romi Perbawa, spesialis fotografi dokumenter kepada detikINET.

Sebelum terjun ke dokumenter, Romi melalui proses fotografi yang tidak singkat. Ia pernah menekuni foto salon dan jurnalistik. Jauh sebelum itu, ia pernah ngotak-ngatik kamera Nikon FM2 semasa SMA tetapi diabaikan karena sibuk kuliah dan bekerja di Surabaya.

Nah, ‘CLBK’ kepada kamera ia temukan saat pulang kampung di Solo, 2004. Ia menemukan album foto keluarga yang menyimpan masa kecilnya.

“Waktu itu aku pulang kampung ke rumah nenek di Kutoarjo, Jawa Tengah, aku lihat laci-laci. Aku lihat foto-fotoku waktu kecil, foto keluarga, di album foto lama. Kok asik banget. Menarik. Saya langsung punya niat, Aku mau motret ah, seriusin motret,”” ucap peraih penghargaan fotografi tingkat nasional dan internasional ini.

The Riders of Destiny by Romi Perbawa at lensculture.com

Sepulang mudik, ia langsung membeli Nikon D70, kamera prosumer yang saat itu sangat happening. Ia mulai belajar di beberapa tempat yang menurutnya baik, Canon School of Photography Kwitang. Ia kemudian banyak bertemu dengan penggemar foto salon dan mulai mengenal Leica M8.

Pun begitu, Romi yang sehari-hari bekerja untuk perusahaan ekpedisi pupuk tidak lekas puas. Bahkan ia merasa bosan karena foto salon dinilai terlalu teknis.

“Aku lihat website-website, Magnumphotos, Henri Cartier-Bresson. Aku lebih tertarik ke foto-foto yang bercerita, yang kayak jurnalis gitu loh. Kalau pictorial, content enggak penting yang penting indah. Teknik aja. Nggak ada tantangan buat aku di situ, ” tandasnya.

Kemudian ia beralih kiblat dari foto salon ke foto jurnalistik dan cerita. Beberapa fotografer top sempat ia jadikan guru seperti Oscar Matuloh. Romi masuk di kelas Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) program khusus untuk mengasah foto-foto berita dan foto cerita yang diasuh Oscar Matuloh.

Di tempat itu, ia menemukan passion dan mulai memproklamirkan diri sebagai fotografer dokumenter. Kebutuhan fotografer dokumenter tersebut yang membuat ia memilih Leica M9 karena dinilai memiliki sistem rangefinder yang presisi, aktual dan mampu merekam pada cerita-cerita yang tidak biasa. Ia abaikan harga mahal untuk kamera Leica.

“Mahal atau tidak itu kan tergantung cara berfikir kita aja kan. Buat saya, lebih baik punya sepeda motor tapi punya rangefinder. Daripada aku naik mobil tapi nggak punya rangefinder,” tandasnya.

Di antara project pribadi yang ia tekuni, buku esai The Riders of Destiny (2014) yang melambungkan namanya. Ia merekam joki cilik di Sumbawa yang ia kerjakan selama 4 tahun. Menurut majalah Time, yang membuat buku foto itu layak diapresiasi yakni proses yang multiyear dari joki kecil hingga para joki itu menginjak dewasa.

The Riders of Destiny by Romi Perbawa at lensculture.com

“Dia sangat menekuni sebagai project generasi hingga para joki itu dewasa,” kata Phil Bicker, editor foto senior Time menanggapi buku tersebut saat diluncurkan.

Dia pun keranjingan menggeluti dokumenter dan suku-suku di Indonesia. Romi berambisi untuk memotret berbagai suku-suku seantero Nusantara. Sebab menurutnya, ada banyak cerita menarik meski untuk sebagian orang terlalu pelan dan jauh dari hingar-bingar foto pada umumnya.

“Luar biasa keasyikannya. Dari yang tidak tahu jadi tahu. Kehidupan itu luar biasa di luar sana. Bayangkan Indonesia begitu besarnya, buku-buku tentang foto dokumenter masih kurang sekali,” tandas Romi.

Ia pun sampai kebingungan karena harus memilih tetap bekerja di perusahaan swasta saat ini atau terjun total di dunia fotografi. Namun Romi tidak ingin terjebak dalam kegalauan tetapi lebih konsentrasi untuk menyiapkan masa-masa pensiun nanti.

“Saya pengen punya sekolah foto, galeri foto di kampungku di Magelang sana. Otomatis sekolah foto yang fokus ke foto-foto story,” tukas Romi.

“Sebab, foto itu bukan masalah menang kalah dalam lomba foto, bukan itu. Tetapi foto ini media kita untuk menceritakan sesuatu yang orang tidak ketahui. Foto itu tidak bisa berbohong,” jawabnya.

Sumber: detik.com

Latest articles

12.6k Followers
Follow

Related articles