Warning: getimagesize(): http:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/yfzbjhce/indonesiamendesain.com/wp-content/plugins/td-cloud-library/shortcodes/header/tdb_header_logo.php on line 792

Warning: getimagesize(http://indonesiamendesain.com/wp-content/uploads/2020/09/Screen-Shot-2020-07-16-at-13.07.54-300x136.png): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/yfzbjhce/indonesiamendesain.com/wp-content/plugins/td-cloud-library/shortcodes/header/tdb_header_logo.php on line 792

Warning: getimagesize(): http:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/yfzbjhce/indonesiamendesain.com/wp-content/plugins/td-cloud-library/shortcodes/header/tdb_header_logo.php on line 792

Warning: getimagesize(http://indonesiamendesain.com/wp-content/uploads/2020/09/Screen-Shot-2020-07-16-at-13.07.54-300x136.png): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/yfzbjhce/indonesiamendesain.com/wp-content/plugins/td-cloud-library/shortcodes/header/tdb_header_logo.php on line 792

Harus Banget Tau Hal-Hal Ini Supaya Portofolio Kamu Dilirik Oleh Klien!

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Bila kamu ingin dipandang sebagai seorang profesional yang meyakinkan, portofolio adalah salah satu bukti yang bisa kamu tunjukkan. Menurut beberapa sumber artikel penelitian yang terpercaya, sekitar 90 persen bagian otak manusia berfungsi untuk memproses sesuatu secara visual. Tidak hanya ucapan dan janji, lho. Beberapa penelitian tersebut juga menemukan bukti bahwa perangkat visual dapat membuat kamu meyakinkan mereka untuk memenuhi permintaanmu.

portofolio

© Dashu83 via Freepik.com

Tidak hanya yang biasa, portofolio online juga sangat penting—apalagi sekarang sudah zaman digital. Tidak hanya mencari kerja di dalam negeri, kesempatanmu juga semakin terbuka lebar dengan karier di luar negeri. Selama portofolio kamu meyakinkan, kamu bisa mendapatkan karier impian kamu.

Jangan terjebak dengan format portofolio yang standar

portofolio

© dsdinc.com

Jadi, apa saja tips agar portofolio kamu dilirik oleh perekrut? Bila ini pertama kalinya kamu sedang mencari pekerjaan, bolehlah mencontoh format portofolio yang sudah ada untuk langkah awal. Misalnya, kamu belajar membuatnya sendiri setelah melihat punya kakak atau sahabat yang sudah lebih dulu mendapatkan pekerjaan.

Namun, seiring berjalannya waktu dan perkembangan kariermu, sering-seringlah memperbarui atau meng-update portofolio. Berhubung sekarang sudah zaman digital, tidak ada salahnya ‘mempercantik’ penampilan portofolio kamu agar tidak kelihatan standar. Tidak perlu menjadi seorang desainer grafis andal, asal kamu tahu bagian-bagian yang ingin kamu ‘jual’ kepada para calon perekrut di luar sana.

Tidak hanya memamerkan daftar prestasi, namun juga bukti

portofolio

© Yanalya via Freepik.com

Oke, mungkin selama ini kamu rajin mencantumkan sederet daftar prestasi pada portofolio kamu. Misalnya, pada tahun sekian, kamu lulus kuliah dengan IPK nyaris mendekati angka 4.00 atau memenangkan lomba esai atau karya tulis pada tahun berikutnya.

Daripada hanya mencantumkan deretan prestasimu di masa lalu, kenapa tidak tambahkan saja bukti-bukti nyata pada portofolio kamu? Tidak hanya ijazah sebagai penanda kelulusan kamu dari kuliah atau setelah mengikuti program tertentu. Misalnya, karya tulis yang membuatmu menang di lomba esai atau video pendek yang menunjukkan proyek terakhirmu terkait dengan bidang yang kamu minati.

Sederhanakan portofolio kamu

portofolio

© Dashu83 via Freepik.com

Ingat, meskipun kamu punya segudang prestasi atau pengalaman kerjamu sudah banyak, tidak perlu mencantumkan semuanya pada portofolio kamu. Ingat, bukan kamu satu-satunya yang melamar kerja ke perusahaan incaranmu. Daripada pihak HRD terlanjur bosan melihat portofolio kamu yang terlalu “penuh”, cukup cantumkan hal-hal yang relevan. Contoh: tidak perlu mencantumkan pengalamanmu menjadi MC bila pekerjaan yang kamu incar lebih banyak di balik meja, seperti penulis konten.

Cara lain untuk menyederhanakan portofolio digital kamu adalah dengan membuat satu laman website atau CV digital yang ringkas. Misalnya, fokuskan isi laman dengan banyak memajang contoh karya, berikut nomor dan email kontak kamu yang dapat dihubungi dengan mudah. Boleh juga memajang foto profil diri yang terlihat seprofesional mungkin agar lebih representatif.

Tidak hanya memajang karya, jangan lupa promosi dirimu

portofolio

© provideocoalition.com

Ini yang bisa kamu lakukan dengan portofolio digital kamu. Bukan masalah kamu punya sifat narsis atau tidak, ya. Pihak HRD perusahaan mana pun pasti juga ingin tahu sosok di balik karya-karya yang tercantum di dalam portofolio kamu. Tidak perlu yang terlalu banyak dan “terbuka”. Mereka tidak perlu mengetahui sejarah kehidupan pribadi keluarga kamu. Cukup tulis latar belakang kamu, seperti tanggal lahir, asal, latar belakang pendidikan, pengalaman berorganisasi dan berkomunitas, hingga pengalaman kerja.

Selain itu, jangan lupa juga cantumkan juga tim atau orang-orang yang ingin kamu ajak untuk bekerjasama. Ini berlaku bagi kamu yang ingin mengembangkan startup atau mengerjakan proyek freelance dalam jangka panjang. Dengan konten portofolio digital yang tampak profesional dan jelas, kamu akan menarik minat orang-orang yang tepat untuk bekerjasama denganmu.

Andalkan kolom “About Me” untuk menarik minat mereka untuk melihat portofolio kamu

portofolio

© blog.prototypr.io

Baik CV biasa maupun portofolio digital, jangan sekali-sekali meremehkan kolom “About Me”. Ini masih berhubungan dengan poin sebelumnya. Selain hal-hal yang sudah disebutkan di atas, jangan lupa juga mencantumkan sejarah atau asal mula kamu tertarik menggeluti bidang yang kamu pilih. Misalnya: kamu mengawali kariermu sebagai blogger dengan mulai sering menulis di blog domain pribadi sambil mengikuti lomba-lomba yang diadakan oleh komunitas blogger. Selain itu, kamu juga sudah pernah beberapa kali mengisi media digital dengan tulisan-tulisan karyamu.

Semakin lengkap dan jelas kolom “About Me” kamu isi, maka semakin jelas dan meyakinkan sepak terjangmu di bidang yang kamu tekuni. Kemungkinan besar akan makin banyak orang yang tertarik untuk bekerjasama denganmu setelah membaca habis portofolio digital kamu.

Gunakan desain yang sederhana dan warna yang tidak terlalu “menyakitkan” mata

portofolio

© creativemarket.com

Bila kebetulan kamu suka mendesain dan senang mengutak-atik website untuk portofolio kamu, pasti suka ingin bereksperimen dengan desain dan warna-warni yang menurutmu unik. Tidak apa-apa bila untuk kebutuhan hiburan. Namun, sebaiknya gunakan desain yang sederhana dan warna yang tidak terlalu “menyakitkan” mata.

Mengapa demikian? Desain yang terlalu rumit (terutama dengan banyak fitur flash dan tombol) mungkin akan membuat banyak yang berubah pikiran saat melihat-lihat portofolio digital milikmu. Begitu pula bila warna-warna yang kamu pilih terlalu terang, sehingga menyakitkan mata. Sebaiknya pilihlah maksimal tiga warna saja, selama ketiganya mewakili representasi atau branding produkmu.

Jangan khawatir bila merasa kurang ahli dalam urusan visual pada portofolio

portofolio

© Creativeart via Freepik.com

Meski sudah zaman digital, tidak semua posisi mengharuskan keahlian yang berkaitan dengan visual. Misalnya: penulis. Kamu masih bisa mempercantik portofolio kamu dengan bantuan teman yang lebih jago mendesain atau memilih cara yang lebih sederhana namun sesuai dengan konsep keahlian kamu.

Misalnya: kamu bisa memotret tulisan-tulisanmu dan menjadikannya bagian dari desain portofolio digital kamu. Unik, otentik, dan pastinya tidak standar.

Bila berada dalam masa transisi dan belum punya klien, buatlah simulasi

portofolio

© cominguprosestheblog.com

Bagaimana bila kamu berada dalam masa transisi dan belum punya klien? Kamu bisa membuat simulasi pada portofolio digital kamu. Misalnya: sebagai seorang content marketer, kamu ingin menawarkan infographics, kamu bisa memulainya dengan memberikan contoh atau mock-up infographic untuk klien.

Meskipun belum mempunyai klien tetap, minimal kamu sudah mengetahui bidang yang kamu geluti dengan membuat mock-up yang cocok untuk portofolio kamu.

Tambahkan referensi dari beberapa klien yang sudah pernah bekerjasama denganmu

portofolio

© charityentrepreneurship.com

Elemen paling efektif untuk portofolio kamu adalah referensi. Bila produkmu sudah pernah digunakan oleh beberapa klien, jangan lupa minta mereka untuk mengisi testimonium yang nantinya akan kamu pajang di portofolio digital kamu. Semakin banyak review yang bagus, semakin besar kesempatan kamu untuk dilirik banyak perusahaan lain yang kebetulan membutuhkan produk atau jasa yang kamu tawarkan.

Yang pasti, agar referensi atas produk atau jasa kamu semakin bertambah, jangan lupa selalu berterima kasih kepada klien sebelumnya. Jagalah hubungan baik dengan mereka semua, karena mereka juga yang nantinya akan merekomendasikan kamu kepada calon-calon klien atau perusahaan lain.

Bila portofolio kamu masih sulit dilirik perekrut, sudah saatnya kamu mencoba salah satu atau beberapa dari 8 tips ini. Namun, pastikan yang kamu coba sesuai dengan bidang yang kamu tekuni. Jangan malas untuk meng-update portofolio bila diperlukan, karena ini merupakan nilai jual kamu agar dilirik para perekrut.

sumber: glints.com

- Advertisement -

Latest articles

7,350 Followers
Follow

Related articles