Warning: getimagesize(): http:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/yfzbjhce/indonesiamendesain.com/wp-content/plugins/td-cloud-library/shortcodes/header/tdb_header_logo.php on line 792

Warning: getimagesize(http://indonesiamendesain.com/wp-content/uploads/2020/09/Screen-Shot-2020-07-16-at-13.07.54-300x136.png): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/yfzbjhce/indonesiamendesain.com/wp-content/plugins/td-cloud-library/shortcodes/header/tdb_header_logo.php on line 792

Warning: getimagesize(): http:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/yfzbjhce/indonesiamendesain.com/wp-content/plugins/td-cloud-library/shortcodes/header/tdb_header_logo.php on line 792

Warning: getimagesize(http://indonesiamendesain.com/wp-content/uploads/2020/09/Screen-Shot-2020-07-16-at-13.07.54-300x136.png): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/yfzbjhce/indonesiamendesain.com/wp-content/plugins/td-cloud-library/shortcodes/header/tdb_header_logo.php on line 792

Mau Bikin Portofolio Fotografimu Terlihat Seperti Profesional? Yuk Simak 5 Tipsnya!

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Sebuah portofolio fotografi merupakan hal yang wajib dimiliki oleh setiap fotografer. Sebagai media untuk memamerkan hasil karya, portofolio fotografi pastinya harus terlihat profesional dan menarik. Berikut beberapa tips yang bisa kamu jadikan panduan dalam membuat portofolio profesional.

Hasil karya fotografi yang rapi terorganisir di dalam sebuah portofolio pastinya akan lebih menggugah dan menarik perhatian dibanding foto yang hanya diletakan di folder komputer. Supaya karyamu dapat tampil dengan lebih memukau, kami sudah merangkum tips membuat portofolio fotografi khusus untukmu nih.

1. Perhatikan Audiensmu 

portofolio fotografi 1

Foto pre-wedding (sumber: shawacademy.com)

Sebelum kamu membuat sebuah portofolio fotografi, coba pertimbangkan terlebih target pasar atau audiens yang ingin kamu sasar. Tujuannya adalah menentukan komponen dan elemen apa saja yang harus kamu cantumkan di dalam portofolio tersebut. 

Apakah kamu membuat portofolio untuk keperluan komersial? Atau mungkin untuk syarat melanjutkan studi maupun bagian dari proses melamar kerja? Masing-masing tentunya akan membutuhkan portofolio yang berbeda pula. Kamu dapat melakukan riset terlebih dahulu untuk mengetahui kebutuhan dan kondisi pasar yang sesuai dengan target audiensmu. 

Contoh portofolio yang dipakai di acara pernikahan pastinya akan berbeda  dengan yang digunakan di acara korporat. Jika kamu berniat untuk menarik calon klien baru, mengunggah karya fotomu di media sosial seperti Facebook atau website bisa menjadi pilihan yang tepat. Dengan demikian, saat orang di daerah sekitarmu ingin mencari seorang fotografer, karya-karya kamu akan langsung tampil di halaman pertama. 

2. Kurasi Foto Terbaik 

portofolio fotografi 2

Gambar kumpulan foto (sumber: shawacademy.com)

Proses kurasi foto merupakan bagian penting yang tidak boleh dilewatkan dalam pembuatan portofolio fotografi. Eits, meski terdengar mudah, memilih foto-foto terbaik dari sekian banyak hasil potret yang kamu ambil bisa menjadi tantangan tersendiri. Di sini, kemampuanmu untuk menilai foto akan diuji. Pilihlah karya yang dapat menggambarkan ciri khasmu sebagai seorang fotografer. Dari teknik yang kamu gunakan, efek khusus, dan komposisi foto yang unik ala kamu. 

Jangan cuma sekadar memilih foto hanya karena kamu memiliki sebuah kenangan saat proses pengambilannya. Ingatlah bahwa proses kurasi ini dilakukan untuk keperluan umum, bukan pribadi. Jadi pilihlah sekiranya yang benar-benar pantas dan paling menarik untuk dijual. Bukan hanya dari segi memilih foto yang telah kamu ambil, tahap berikutnya adalah proses penyempurnaan gambar memakai bantuan aplikasi digital. Kamu bisa memakai beragam pilihan aplikasi yang tersedia di internet. 

3. Pilihlah Bidang Spesialis 

portofolio fotografi 3

Foto gedung (sumber: pexels.com)

Kamu mungkin pernah menjadi fotografer di berbagai kegiatan seperti acara perusahaan, pesta olahraga, atau mungkin mengambil gambar untuk editorial fashion. Hal ini bisa membuat hasil karyamu menjadi terlihat lebih bervariasi, tapi pada saat yang bersamaan juga menjadikan portofoliomu menjadi tidak konsisten. 

Portofolio yang terdiri dari banyak jenis foto dari tema yang berbeda dapat membuat para calon klien menjadi kebingungan dan meragukan keahlianmu dalam mengambil gambar di bidang tertentu. Seorang calon pengantin pastinya tidak akan mau melihat koleksi foto dari acara perusahaan yang kamu ambil sebelumnya dong. 

Maka dari itu, cara yang dapat kamu lakukan adalah dengan menjadi spesialis di bidang fotografi tertentu. Pilihlah satu atau dua bidang yang kamu sukai untuk dijadikan fokus utama sebagai ciri khas brand-mu. Misalnya jika kamu tertarik menjadi fotografer khusus di bidang fashion, maka cobalah untuk mengarahkan semua proyek yang kamu kerjakan pada bidang ini. Dengan demikian, kamu dapat membangun reputasi sebagai seorang fashion photographer

Jika kamu memutuskan untuk mengambil beberapa bidang sekaligus, buatlah portofolio yang terpisah antara satu kategori dengan kategori lainnya. Dengan memisahkan karyamu menjadi kategori khusus sesuai dengan bidang yang kamu ambil, portofoliomu akan terlihat lebih terorganisir.  

4. Cetak atau Digital? 

Contoh website fotografi (sumber: amejorado.com)

Kalau portofolio sudah jadi, terus berikutnya apakah harus dicetak atau cukup disediakan dalam bentuk digital? Jawabannya adalah keduanya. Di era modern ini, hampir semua orang sudah memiliki akses internet untuk masuk ke dunia digital dengan sangat mudah. 

Mengaca dari tren saat ini, media digital merupakan pilihan terbaik yang dapat kamu gunakan untuk menjadi tempat display karya-karya visualmu. Cukup berbekal komputer atau HP, kamu sudah bisa langsung menunjukan mahakaryamu ke seluruh dunia. 

Opsi yang bisa kamu ambil sebagai tempat pajangan portofolio fotografi adalah melalui media sosial atau website. Manfaatkanlah akun Instagram atau Facebook sebagai tempat pameran karya-karyamu yang bisa sekaligus kamu gunakan untuk membangun brand dan menarik perhatian orang untuk mengintip karya terkini mu. 

Membuat sebuah website khusus sebagai media portofolio foto juga menjadi pilihan yang bisa kamu pertimbangkan. Kamu bisa membuat website secara gratis menggunakan berbagai platform penyedia layanan hosting seperti Wix atau WordPress. 

Tidak lupa juga siapkan contoh portofolio cetak yang bisa kamu gunakan saat pertemuan dengan klien secara langsung. Jadi kamu cukup tidak perlu repot-repot membawa flashdisk atau kartu memori untuk menampilkan hasil fotomu. 

5. Minta Pendapat 

Ilustrasi orang berdiskusi (pexels.com)

Setelah kamu selesai membuat portofolio fotografimu, step selanjutnya yang dapat kamu lakukan agar memastikan karyamu sudah layak untuk dijual adalah dengan meminta pendapat dari orang lain. Bisa dari teman-teman di sekitarmu, atau lebih baik lagi, pendapat dari sesama fotografer. 

Dengan menunjukan hasil karyamu untuk di-review sebelum digunakan secara luas, kamu bisa mendapatkan feedback dan respon yang dapat dijadikan bahan pertimbangan agar karyamu bisa lebih baik lagi. Tanyakanlah pemilihan foto dan tata letak gambar dalam portofolio. 

Kalau kamu sudah menerima pendapat dari banyak orang, kamu bisa memperbaiki bagian-bagian yang bisa lebih disempurnakan lagi. Hasilnya, karyamu akan tampil lebih profesional dan lebih siap untuk ditampilkan ke hadapan para klien.  

Karya fotografi yang ditampilkan melalui portofolio pastinya akan terlihat lebih profesional dan tentunya akan menarik perhatian klien. Nah, supaya hasil jepretanmu makin paripurna, kamu bisa belajar fotografi lewat beberapa kursus online rekomendasi kami. 

sumber: kreativv.com

- Advertisement -

Latest articles

7,350 Followers
Follow

Related articles