Warning: getimagesize(): http:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/yfzbjhce/indonesiamendesain.com/wp-content/plugins/td-cloud-library/shortcodes/header/tdb_header_logo.php on line 792

Warning: getimagesize(http://indonesiamendesain.com/wp-content/uploads/2020/09/Screen-Shot-2020-07-16-at-13.07.54-300x136.png): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/yfzbjhce/indonesiamendesain.com/wp-content/plugins/td-cloud-library/shortcodes/header/tdb_header_logo.php on line 792

Warning: getimagesize(): http:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/yfzbjhce/indonesiamendesain.com/wp-content/plugins/td-cloud-library/shortcodes/header/tdb_header_logo.php on line 792

Warning: getimagesize(http://indonesiamendesain.com/wp-content/uploads/2020/09/Screen-Shot-2020-07-16-at-13.07.54-300x136.png): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/yfzbjhce/indonesiamendesain.com/wp-content/plugins/td-cloud-library/shortcodes/header/tdb_header_logo.php on line 792

Google: Desain Feeling untuk User Design yang lebih ‘manusiawi’

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Mungkinkah membuat user interface (UI) yang lebih humanis, yang mampu merasakan kegembiraan atau kesedihan pengguna? Google Empathy Lab menawarkan pendekatan design feeling untuk mewujudkannya.

Menurut Danielle Krettek, Founder Empathy Research Lab Google, mesin tidak mungkin bisa berempati. Namun dengan artificial intelligence yang tepat, asisten digital dapat melakukan suatu lompatan empati (empathic leap) sehingga mereka bisa menjadi semacam kopilot di samping manusia. Bukan menjadi manusia, tetapi akan lebih memahami manusia.

Untuk mewujudkan kemampuan itu, seperti dikutip dari situs web ComputerWeekly.com, Danielle menyarankan organisasi bisnis mulai memikirkan metodologi design feeling, sebagai kelanjutan dari design thinking. Metodologi design thinking sendiri kini banyak digunakan untuk menciptakan konsep-konsep desain yang lebih inovatif dan humanis. Dengan metode design feeling, para pengembang aplikasi dapat memfokuskan pada pembuatan desain yang memungkinkan user untuk merasakan.

Danielle Krettek yang memiliki latar belakang pendidikan di bidang filosofi dan fisika memaparkan tiga jenis user interface. Pertama adalah UI jenis super-informativeneutral, dan empathetic user interface. Jenis yang ketiga ini tidak terlalu informasti  tetapi dapat membangun hubungan emosional dengan user.

Empathetic interface dapat menginterpretasikan nada suara—atau kata-kata—dan merespons tidak hanya dengan informasi tetapi dengan response emosional yang pantas. Misalnya, pertanyaan yang bernada marah atau frustasi akan direspons oleh bot dengan nada kalem. Sementara suara atau kata-kata yang bernada ingin tahu akan dibalas dengan nada bicara santai oleh bot.

Ini perbedaan design thinking dan design feeling menurut Google Empathy Lab:

Design thinkingDesign feeling
ProdukKehadiran
Bersifat transaksiBersifat relasi
KeterlibatanHubungan dan kepedulian
Data dan machine learningNilai, kepercayaan, dan pertumbuhan yang selaras
IQ dan pengetahuan EQ dan kearifan
Cepat   Lambat
Penciptaan   Intensi
Apa yang dilakukan Bagaimana rasanya

Setelah mengetahui perbedaannya, mari terapkan design feeling lebih sering agar karya kita makin ‘berempati’.

Sumber: infokomputer.grid.id

- Advertisement -

Latest articles

7,350 Followers
Follow

Related articles