Warning: getimagesize(): http:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/yfzbjhce/indonesiamendesain.com/wp-content/plugins/td-cloud-library/shortcodes/header/tdb_header_logo.php on line 792

Warning: getimagesize(http://indonesiamendesain.com/wp-content/uploads/2020/09/Screen-Shot-2020-07-16-at-13.07.54-300x136.png): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/yfzbjhce/indonesiamendesain.com/wp-content/plugins/td-cloud-library/shortcodes/header/tdb_header_logo.php on line 792

Warning: getimagesize(): http:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/yfzbjhce/indonesiamendesain.com/wp-content/plugins/td-cloud-library/shortcodes/header/tdb_header_logo.php on line 792

Warning: getimagesize(http://indonesiamendesain.com/wp-content/uploads/2020/09/Screen-Shot-2020-07-16-at-13.07.54-300x136.png): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/yfzbjhce/indonesiamendesain.com/wp-content/plugins/td-cloud-library/shortcodes/header/tdb_header_logo.php on line 792

Perlukah Mempelajari mati-matian Teknik Foto demi Hasil Terbaik?

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Fotografi buat sebagian orang adalah hobi yang menyenangkan, apalagi kalau bisa menghasilkan karya foto yang bagus. Banyak orang kemudian berusaha untuk membuat foto yang bagus, dengan membeli kamera dan lensa kelas atas, aneka aksesori yang lengkap sampai editing dengan maksimal. Tapi gimana mau dapat hasil bagus kalau saat memotret kita masih belum terlatih dalam hal teknisnya? Teknik dalam fotografi menjadi sebuah aspek yang fundamental dan esensial dalam menghasilkan foto yang baik, perlu dipahami dan diterapkan secara disiplin supaya terbiasa.

Teknis dan seni dalam fotografi ibarat dua sisi mata uang, berbeda tapi saling melengkapi. Tahap awal memotret perlu menguasai aspek teknis lebih dulu, meski kesannya rumit dan mesti melibatkan perencanaan setting berdasakan nalar dan logika berdasarkan teori dan pengalaman. Memang sih, kamera modern sudah punya mode Auto yang canggih. Dia sudah bisa metering otomatis, auto fokus dengan cerdas, menentukan warna dengan tepat, bahkan hasil fotonya kita masih bisa edit lagi bila belum puas. Tapi tetap saja sebagai penanggung jawab hasil akhir, kita semestinya punya sederet prioritas apa saja yang mau dikendalikan, dengan cara bagaimana dan untuk tujuan apa. Misal untuk foto pemandangan, prioritas biasanya ditujukan ke depth-of-field untuk ketajaman yang merata. Tapi di foto liputan, yang diutamakan justru kegesitan dalam mengambil momen, dalam hal ini shutter speed perlu yang cepat.

Salah satu prioritas yang harus direncanakan dalam memotret

Tentunya teori dasar fotografi penting untuk menjadi panduan dalam mengatur setting kamera, tanpa teori maka prakteknya akan berantakan, tanpa arah dan bisa bikin frustasi. Nah setelah tahu teorinya, maka yang bisa dilatih setelah itu adalah teknik memotretnya. Teknik yang dimaksud adalah kemampuan merencanakan kebutuhan setting yang sesuai dengan tujuan fotonya, bisa mengatur fokus supaya jelas mana subyek dan mana yang blur, berupaya mendapat foto yang tajam (tidak shake) dan sebisa mungkin warna yang dihasilkan akurat, supaya warna kulit juga tetap tampak alami dibawah sumber cahaya yang berbeda-beda. Orang yang sudah tahu teorinya, tetap saja perlu dengan disiplin menerapkan pengetahuannya setiap kali dia memotret.

Foto penyanyi di panggung, Lumix G85 lensa Leica DG 50-200mm. Dengan cahaya yang ada, shutter 1/160mm, f/4 dan ISO 800 adalah pilihan kompromi saya antara intensitas cahaya, gerakan subyek dan fokal lensa yang dipakai.

Setting dasar kamera yang paling elementer tentu adalah eksposur, maka dengan belajar mengamati pencahayaan yang akan dipakai, menentukan mode yang mau dipakai, melihat light meter hingga histogram, kita sudah mendisiplinkan diri pada level paling dasar. Sepertinya rumit ya, tapi mau bagaimana lagi. Inilah tugas wajib seorang fotografer, demi mendapat foto dengan eksposur yang diinginkan.

Setelah eksposurnya dapat, tugas kedua adalah mendapat foto yang tajam dan jelas, karena bagaimanapun foto adalah pesan yang mesti jelas supaya bisa dimaknai dengan tepat oleh mereka yang melihat fotonya. Foto yang tajam itu punya banyak faktor, misal fokusnya, lensanya, cara kita memotret (stabil atau goyang) sampai ke subyeknya bergerak atau diam. Kendala foto yang blur karena goyang akibat tangan (handshake) paling banyak dialami, selain itu ada juga shake karena subyeknya bergerak. Percuma eksposurnya tepat tapi fotonya tidak bisa dinikmati karena goyang, nanti fotonya akan kurang detail atau bahkan tidak bisa dinikmati sama sekali. Belum lagi kalau bicara warna, kita perlu mengupayakan setting White Balance dengan baik, sesuai sumber cahaya dan kalau bisa berlatih memilih Kelvin di kamera. Tujuannya tentu supaya mendapat warna yang netral dan enak dilihat, terutama di bagian yang kita sudah familiar seperti warna kulit, warna daun, warna langit dsb.

NIkon D600, Tamron 100-400mm. Dengan cahaya cukup banyak, saya bisa pakai shutter 1/400 detik, meski karena bukaan maksimum lensa ini cuma f/6.3 di 400mm maka ISO terpaksa naik ke ISO 2800.

Ada saja orang yang berpikir, kalau disiplin teknik tidak perlu diterapkan dengan sungguh-sungguh. Toh kalau fotonya terlalu gelap, bisa diterangkan lagi di editing. Kalau warna tidak pas, toh juga bisa diedit, apalagi kalau pakai format file RAW. Tapi bagaimana kalau fotonya goyang, atau fokusnya salah. Lagipula merencanakan setting IOS-shutter-aperture itu juga bagian dari disiplin teknis, berkaitan dengan prioritas yang tadi disebutkan diatas. Tujuan disiplin teknik justru ingin membiasakan diri sendiri mengurus hal-hal teknis sesuai teori yang ada, supaya mendapat foto yang secara teknis memenuhi syarat. Barulah langkah berikutnya, yang jauh lebih perlu diperhatikan, adalah making good picture : mau pakai fokal lensa berapa, dari angle mana, kapan waktu yang tepat untuk diambil, kaidah komposisi apa yang akan dicoba, cerita apa yang mau diangkat (untuk foto liputan, human interest dan sebagainya) sampai sisi artistik/kreativitas yang perlu dicoba demi menambah kesan unik dari foto.

Jadi jika disimpulkan, disiplin teknis itu penting, meski untuk mempercepat proses memotret kita tetap boleh bekerjasama dengan kamera dalam hal otomatis tertentu (auto fokus, metering, TTL flash) namun terus berlatihlah dalam mendisiplinkan diri secara teknis waktu memotret dengan :

  • melihat jenis, intensitas, arah dan warna cahaya
  • menentukan prioritas dan mode kamera (apa perlu mode Manual atau lainnya)
  • mengatur eksposur supaya pas dalam keadaan cahaya yang ada
  • mengatur fokus sampai pas, ke subyek utama (bisa AF atau MF)
  • menggunakan bantuan bila perlu : tripod, flash, filter
  • menentukan warna yang akurat dan netral
  • meninjau lagi hasil foto, cek data teknis termasuk histogram
  • termasuk memutuskan mau pakai JPG atau RAW

Memang, tidak semua dari kita bisa dengan cepat menguasai hal-hal teknis diatas, memang semuanya perlu dilatih, dan artinya tidak bisa instan. Maka itu proses pembelajaran jangan dijauhi, tapi perlu terus dijalani. Niscaya, kemampuan artistik untuk menentukan mana objek yang bagus untuk difoto, dan bagaimana menangkapnya, makin meningkat dengan pembelajaran berkelanjutan.

Sumber: infofotografi.com

- Advertisement -

Latest articles

7,350 Followers
Follow

Related articles