Perjalanan Seni dan Kurasi: Sally Texania

Sally Texania. (Foto: Jacky Rachmansyah)

Ia pernah menjadi kurator untuk beberapa galeri komersial serta pernah menjadi kurator untuk sebuah museum swasta, yakni Ciputra Artpreneur yang menjadi rumah koleksi lukisan maestro Indonesia Hendra Gunawan.

Nama Sally Texania sering terdengar di dunia seni rupa di Jakarta. Pada akhir tahun 2016, ia mengkurasi 27 seniman muda untuk pameran “Universe Behind the Doors” di Artotel dan pameran tunggal seniman Aliansyah Caniago bertajuk “The Sky is Portable” yang memamerkan hasil residensinya dengan ARCOLABS. Pada Juni 2017, Sally bergabung dengan program CuratorsLAB bersama dengan Rifandy Priatna dan kurator Thailand Henry Tan, mengkurasi pameran “Mutual Unknown” yang menghadirkan sembilan seniman muda dari Asia Tenggara.

Bulan lalu, bersama Mikke Susanto, Asikin Hasan, dan Amir Sidharta, Sally muncul sebagai kurator termuda di tim kuratorial Pameran Lukisan Koleksi Istana Kepresidenan Republik Indonesia “Senandung Ibu Pertiwi”. Selain itu, ia juga mengkurasi pameran tunggal maestro Srihadi Soedarsono bertajuk “Menyingkap Ja(Ya)karta” di Museum Seni Rupa dan Keramik.

Ketertarikan Sally untuk bergabung di dunia seni rupa lahir ketika ia menjadi siswa di Insitut De La Vierge Videle di Belgia pada 2002. Walaupun ia adalah siswa dari kelas IPA, Sally sengaja memilih jurusan seni rupa untuk program pertukaran pelajar tersebut. “Memang aneh, anak IPA malah ikut jurusan seni rupa,” ucapnya.

Di Belgia, ia melihat perbedaan yang cukup kontras dengan Indonesia. Apresiasi terhadap seni yang tinggi tampak dari keadaan museum dan galeri yang tidak pernah sepi, malah penuh dengan pengunjung. Sebuah pemandangan yang pada saat itu hampir tidak pernah terlihat di Jakarta. Dari sanalah Sally membulatkan niatnya untuk menjadi seseorang yang dapat berkontribusi kepada dunia seni rupa di Indonesia.

Langkah awal yang ia lakukan sepulang dari Belgia adalah dengan mengambil jurusan seni rupa di Fakultas Seni Rupa dan Desain di Insitut Teknologi Bandung. Di sana, Sally tidak langsung belajar untuk menjadi kurator, tetapi memulai sebagai seorang pelajar seni yang tentunya ada ambisi awal untuk menjadi seorang seniman. Seiring berjalannya waktu, ambisi untuk menjadi seniman pelan-pelan meredup.

Sally Texania saat pembukaan sebuah pameran di Galeri Nasional Indonesia. (Dok. Sally Texania)
Sally Texania saat pembukaan sebuah pameran di Galeri Nasional Indonesia. (Dok. Sally Texania)

“Awalnya saya mulai dengan melukis. Tapi lama-lama bosan,” ujar Sally. “Selain itu, saya juga bukan tipe orang yang suka kerja sendirian.” Mengingat seniman adalah pekerjaan yang individual, Sally tidak bisa membayangkan dirinya bekerja sendiri di studio.

“Lagipula, saat itu semua (teman kuliah) mau menjadi seniman, mau pameran, tapi tidak ada yang mau nguratorin pameran. Ya sudah saya yang jadi kurator,” kenang Sally. Proyek-proyek awal yang ia kerjakan sebagai kurator adalah mengkurasi pameran teman-temannya sendiri. Salah satunya adalah pameran yang digelar di Galeri Soemardja, ITB pada 2010.

Layaknya seorang seniman yang memiliki keingintahuan tinggi, Sally justru melanjutkan studi S2-nya dengan mengambil jurusan Hubungan Internasional di Universitas Indonesia. “Saya memang dari dulu ingin belajar HI,” ungkap Sally. Keinginannya untuk mempelajari HI lebih mantap lagi saat duduk di kelas estetika ITB yang diajar Dr. Irma Damajanti.

Saat itu Sally belajar mengenai adanya maksud politik dan diplomatik di balik kekaryaan seniman abstrak ekspresionis asal Amerika Serikat Jackson Pollock. Tidak heran jika judul thesisnya adalah “Pengaruh Diplomasi Publik Pemerintah Amerika Serikat di Era Perang Dingin terhadap Nilai Ekonomi Seni Amerika Serikat”.

Pengalaman Sally sebagai kurator pun dapat dibilang cukup bervariasi. Ia pernah menjadi kurator untuk beberapa galeri komersial serta pernah menjadi kurator untuk sebuah museum swasta, yakni Ciputra Artpreneur yang menjadi rumah koleksi lukisan maestro Indonesia Hendra Gunawan. “Di sana (Ciputra Artpreneur) saya benar-benar belajar, tidak hanya sebagai kurator, tetapi juga proses mendirikan sebuah museum. Dari ruangan kosong hingga menjadi ruang pamer,” tutur Sally. Setelah beberapa tahun bekerja di bawah galeri komersial dan museum, Sally pun akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang kurator independen.

“Kurator itu tidak hanya harus bisa menulis, tetapi juga bisa manajemen karya, seniman, dan pameran,” tegas Sally mengenai stereotype “kurator harus bisa menulis” dan “tugas kurator hanya menulis”. Tidak seperti di luar negeri yang memiliki tim logistik sendiri untuk sebuah pameran, di Indonesia seorang kurator harus bisa mengerjakan semuanya.

sumber:sarasvati.co.id

Latest articles

12.6k Followers
Follow

Related articles