Jangan Asal Jepret Foto! Kenali Momen yang Tepat dengan Contoh ini

Momen yang tepat dalam memotret sulit dideskripsikan, tapi bisa dirasakan atau dilihat. Momen yang tepat (decisive moment) pertama kali didefinisikan oleh fotografer asal Perancis, Henri Cartier Bresson, yang mengatakan:

“The decisive moment, it is the simultaneous recognition, in a fraction of a second, of the significance of an event as well as the precise organization of forms which gives that event its proper expression.”

Henri Cartier-Bresson

Maksudnya dalam bahasa sehari-hari kurang lebih adalah: Ada momen dan komposisi yang paling baik untuk menceritakan sebuah peristiwa.

Merupakan tanggung jawab dari fotografer untuk menyadari kapan momen tersebut terjadi dan menangkapnya.

Definisinya ini bisa dipecah jadi dua hal:

  1. Pentingnya menangkap momen yang penting (klimaks) dari sebuah aksi
  2. Komposisi (posisi/susunan elemen-elemen foto dan latar belakang)  harus harmonis dan cocok untuk ceritanya.

Jadi tidak mudah memotret “decisive moment” ala Henri karena selain momennya harus tepat, komposisinya harus cocok. Atau sebaliknya, gak cukup hanya komposisi yang cocok, tapi momennya juga harus pas.

Untuk meningkatkan kemungkinan untuk mendapatkan decisive moment, kita harus selalu siap dengan kamera dan lensa, sabar menunggu dan mengaktifkan fungsi foto berturut-turut.

Cara populer lainnya yaitu mencari latar belakang yang menarik terlebih dahulu, dan menunggu sampai ada subjek menarik yang lewat.

Dilansir dari infofotografi, saat Enche Tjin ke Kamboja dua tahun yang lalu (2011), dari jauh terlihat ada sebuah perahu yang berisi seorang remaja dan orang tuanya mendekati perahunya. Ia melihat ekspresi mata remaja ini dipenuhi oleh determinasi yang tinggi, Lalu mulai membidik dan memotret satu per satu.

Sequence foto untuk mencari foto dengan momen yang tepat, ISO 800, Shutter speed 1/1600 detik, f/5.6, 200mm

Dari beberapa foto diatas, foto yang kedua dirasa termasuk foto decisive moment karena dari ekspresi, dan komposisinya lebih pas dan harmonis dibandingkan dengan foto-foto yang lain.

Di olah digitalnya (dengan Lightroom), aspek rasio-nya di crop menjadi 4:3 supaya tidak terlalu panjang/tinggi, dan kemudian mengubah foto menjadi hitam putih, dan meningkatkan kontrasnya supaya pemirsa dapat lebih berkonsentrasi ke bentuk dan momennya dan tidak terganggu dengan berbagai warna yang ada di dalam foto.

Di Kampong Khleang, danau Tonle Sap, dekat Siem Reap, Kamboja

Sumber: infofotografi.com

Latest articles

12.6k Followers
Follow

Related articles