Wednesday, October 27, 2021
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeInterior DesignRumah Kecil Bergerak yang Inspiratif

Rumah Kecil Bergerak yang Inspiratif

Jay Shafer menyebut dirinya sebagai seorang “claustrophile,” atau penyuka kesempitan. Selama lima tahun sebelum menikah dan punya anak, dia tinggal di rumah seluas tak lebih dari 12 m2. Rumah tersebut dia bangun sendiri di dalam truk kontainer miliknya.

Awalnya, Shafer tak berniat untuk menetap di sana. Namun, pergantian musim dan kehidupan nomaden yang dijalaninya mengharuskan Shafer untuk beradapsi dengan memasang alat insulasi di bagian dalam truk untuk menghadapi gangguan cuaca yang tidak tentu.

Shafer tak lantas merombak komponen truk begitu saja. Dia membuat gambar rancang terlebih dahulu yang berujung menjadi cetak biru desain rumah idamannya—rumah yang berorientasi pada efisiensi ruang dari pemanfaatan lahan yang begitu minim.

Tiny House yang dirakit di atas kontainer

pinterest.com

Sampai akhirnya pada tahun 1999, Shafer berhasil menyulap truk rekreatif miliknya menjadi sebuah rumah layak huni. Tiga tahun setelahnya, dia digandeng Greg Johnson, Shay Solomon, dan Nigel Vandez untuk mendirikan perusahaan properti Tumbleweed Tiny House Company yang berfokus pada produksi dan pengembangan teknologi untuk pembangunan rumah mini.

Rumah mini pertama yang dibangun Shafer memang tak seberapa indah. Dari kenampakan fasadnya, rumah tersebut terlihat seperti kabin suram dan berhantu yang kerap diilustrasikan dalam buku cerita anak-anak.

Rumah Kecil Kabin Kayu yang dikunjungi banyak orang

smallhousesociety.net

Namun, cerita pengalaman bermukim di dalamnya menarik perhatian banyak orang dari berbagai kota di belahan Amerika Serikat. Mereka berbondong-bondong datang ke Iowa untuk mengintip seperti apa rupa interior dan bagaimana cara Jay Shafer bertahan hidup di rumah mini tersebut.

Antusiasme ini lantas melahirkan sebuah gerakan akar rumput bernama Small House Society yang diprakasai langsung oleh Shafer dan Johnson. Gerakan ini tidak hanya berangkat dari kemungkinan untuk tinggal di tengah keterbatasan, namun juga keinginan membawa semangat gaya hidup yang lebih simpel dan jauh dari kerumitan.

Pria dewasa yang duduk bersila di atas kasur dalam rumah kecil

livingbytinyhouse.com

“Disamping saya tidak membutuhkan apapun selain apa yang saya miliki, saya sangat setuju akan ide mendahulukan kualitas ketimbang kuantitas,” ujar Shafer dalam wawancaranya bersama Oprah.

“Hidup serba minim seperti ini sesungguhnya begitu mewah, dalam artian waktu yang saya miliki lebih banyak dari yang saya punya sebelumnya. Saya tidak perlu buang-buang waktu memikirkan cicilan rumah atau kerepotan membersihkan rumah.”

“Kualitas di atas kuantitas” merupakan istilah yang lebih dulu didengungkan oleh arsitek asal Inggris, Sarah Susankan, lewat bukunya yang berjudul The Not So Big House. Partner bisnis Shafer, Greg Johnson mengamini bahwa mulanya dia pun terilhami oleh konsep efisiensi yang ditawarkan Susankan di dalam bukunya.

Tanpa perlu memasarkan gerakan tinggal di rumah mini secara lebih komersil, komunitas Small House Society kian berkembang secara organik. Hingga takdir akhirnya mempertemukan gerakan ini dengan semesta saat Amerika Serikat terhantam krisis ekonomi akibat kredit macet kepemilikan rumah di tahun 2008.

Rumah kecil bernuansa natural dengan furnitur kayu dan daun-daunan hias

dwell.com

Resesi ekonomi ini menghanguskan pasar properti rumah tapak dan apartemen sampai menjadi arang. Perspektif masyarakat terhadap kepemilikan rumah berubah drastis; mereka tak lagi menilai rumah dengan pandangan yang sama. Ini menjadi momentum besar bagi tiny house movement serta bisnis pembangunan rumah mini itu sendiri.

Semenjak itu, buku-buku panduan hidup di rumah mini atau pembahasan lengkap keterampilan membuat rumah mini mulai bermunculan. Laman-laman internet tak henti merilis berbagai referensi desain rumah mini dan mengulik kisah para penghuninya.

Kamar tidur kecil nuansa natural dengan langit kayu sprei biru bantal kuning dan background daun

dwell.com

Melalui acara televisi Tiny House Nation dan Tiny House Hunter, rumah mini berubah menjadi rumah impian setiap orang. Acara ini tak ubahnya reality show Bedah Rumah di mana segmen puncaknya yang memperlihatkan hasil dari renovasi interior menjadi momen yang paling dinanti para penonton. Raut bahagia terpancar dari wajah para peserta seakan mereka baru saja berhasil mendapatkan lotre untuk pindah ke rumah gedongan.

Rumah Mini model terbuka bernuansa alam dengan unsur kayu

dwell.com

Tak bisa dipungkiri keterbatasan lahan sekarang ini menjadi permasalahan serius yang menuntut solusi inovatif. Densitas kota yang kian menggemuk semakin tak menyisakan ruang untuk generasi-generasi baru bermukim. Harga rumah dan apartemen yang dipasarkan developer kian hari kian melambung tinggi.

Bagi siapapun yang fluktuasi bulanan pundi-pundi rekeningnya stagnan, memiliki rumah merupakan angan-angan yang muskil.

Rumah Mini gandeng dengan desain industrial di hutan

curbed.com

Rumah mini semakin populer karena dianggap sebagai alternatif ruang tinggal yang mampu menjawab permasalahan krisis lahan, harga properti yang sulit dinalar, penghasilan pas-pasan, dan tuntutan jaman yang sedemikian kompleks.

Dilansir dari CNN America, laporan National Association of Home Builders mencatat lebih dari setengah penduduk Amerika Serikat tertarik untuk tinggal di rumah berukuran kurang dari 50 m2. Meningkatnya permintaan rumah mini di kalangan milenial pada tahun 2018 pun naik hingga 63 persen.

Tinggal di rumah mini memang dapat dilihat dalam bingkai yang lebih luas. Tiny house movement sangat mudah diterima di kalangan para pencinta lingkungan karena minimalisasi penggunaan material menghasilkan emisi gas karbon yang lebih sedikit dari pembangunan rumah konvensional.

Kecenderungan generasi modern untuk menjalani hidup dengan lebih praktis dan sebisa mungkin menjauhkan diri dari kerumitan cukup sejalan dengan konsep simplisitas yang ditawarkan rumah mini. Kehidupan di luar rumah sudah terlampau pelik untuk memikirkan hal-hal kompleks seperti cicilan berintegral ke dalam rumah selama berpuluh-puluh tahun.

Tampak dalam Ruang berlantai dua didominasi warna putih

curbed.com

Pun demikian, alasan mendasar untuk membeli rumah mini adalah harganya yang terjangkau. Pasalnya, untuk satu unit rumah mini bisa memangkas 70 persen total biaya untuk membeli rumah dari para pengembang properti. Konsultan bisnis Curbed, Jenny Xie, mencatat paling tidak dengan membeli rumah mini, seseorang dapat berhemat sampai 250.000 dolar Amerika.

Bayangkan, penghematan sebesar itu bisa dimanfaatkan oleh milenial untuk berlangganan layanan video streaming sampai akhir hayat turunan ketujuh.

Namun, tampaknya kemudahan ini akan kembali menjadi angan-angan belaka karena tiny house movement tak berhasil menengahi permasalahan utama dari tingginya harga properti, yaitu harga tanah. Biaya konstruksi rumah mini begitu murah, tapi nilai tanah per meter terlanjur mahal.

Rumah Mini berpijak di tengah lahan pekarangan yang sedikit bersalju

dwell.com

Fisik rumah mini tidak dibangun di atas tanah. Harganya murah justru berkat menanggalkan pertimbangan nilai jual tanah, tetapi rumah mini tetap memerlukan tanah atau lahan parkir untuk berpijak, dan itu tidak bisa diperoleh secara gratis.

Hal ini sebenarnya dapat disiasati dengan hanya membeli sejengkal tanah yang muat untuk satu rumah mini, namum regulasi kepemilikan tanah di beberapa wilayah Amerika Serikat selama ini memberlakukan luas minimal untuk membeli tanah, yang mana cukup mubazir untuk menampung rumah mini yang pastinya tidak seberapa besar.

Rumah Kecil Kontainer dengan halaman berbatu dengan banyak kursi

curbed.com

David Latimer, arsitek sekaligus pendiri New Frontier Tiny Homes, yang akhir-akhir ini kencang menyuarakan perubahan regulasi zonasi tanah residensial, menuntut pemerintah negara bagian Nashville untuk segera merancang regulasi baru demi masa depan pemukiman rumah mini.

“Perubahan regulasi berjalan lambat, padahal kami tidak meminta menempatkan kapal ruang angkasa di sebelah lahan rumah siapapun. Ini sebuah rumah, hanya lebih kecil saja ukurannya. Tapi, ini merupakan opsi ruang tinggal yang dipilih banyak orang.”

Pada akhirnya, membeli rumah mini atau rumah dari para developer besar sama-sama mengeluarkan ongkos yang menguras kinerja otak dalam mencari cara melipatgandakan penghasilan bulanan yang stagnan, tanpa perlu mengubah gaya hidup yang terus bersukacita dalam membelanjakan uang demi kebahagiaan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Pertimbangkan prioritas apa yang perlu diutamakan saat membeli rumah agar impianmu memiliki rumah impian tetap menjadi kenyataan.

sumber:dekoruma.com

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments