Warning: getimagesize(): http:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/yfzbjhce/indonesiamendesain.com/wp-content/plugins/td-cloud-library/shortcodes/header/tdb_header_logo.php on line 792

Warning: getimagesize(http://indonesiamendesain.com/wp-content/uploads/2020/09/Screen-Shot-2020-07-16-at-13.07.54-300x136.png): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/yfzbjhce/indonesiamendesain.com/wp-content/plugins/td-cloud-library/shortcodes/header/tdb_header_logo.php on line 792

Warning: getimagesize(): http:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/yfzbjhce/indonesiamendesain.com/wp-content/plugins/td-cloud-library/shortcodes/header/tdb_header_logo.php on line 792

Warning: getimagesize(http://indonesiamendesain.com/wp-content/uploads/2020/09/Screen-Shot-2020-07-16-at-13.07.54-300x136.png): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/yfzbjhce/indonesiamendesain.com/wp-content/plugins/td-cloud-library/shortcodes/header/tdb_header_logo.php on line 792

‘HAHA’ Karya Seniman Kelahiran Bandung Ini Dipamerkan di Singapura

- Advertisement -
'HAHA' Karya Seniman Kelahiran Bandung Dipamerkan di Singapura
- Advertisement -
- Advertisement -

Naufal Abshar (tengah), berfoto dengan Maia Estianty (kiri) dan Irwan Mussry yang hadir sebagai tamu. (Instagram/naufalabshar)

WJtoday, Bandung – Seniman kelahiran Bandung, Naufal Abshar memboyong lukisan-lukisan ‘HAHA’ ciptaannya ke Singapura. Lulusan Lasalle College of the Arts dan Goldsmiths University London ini tengah menggelar pameran tunggal di Art Porters Gallery yang dibuka sejak 19 Maret lalu.


Lewat pameran berjudul ‘I AM ME’, Naufal menggali makna identitas yang lebih mendalam. Naufal menuturkan bahwa mimpi, ambisi, cinta, perasaan, maupun lingkungan sekitar bisa menciptakan identitas bagi manusia termasuk sang seniman.


“Aku adalah aku. Siapa saya? Sebagai pribadi, apa yang saya lakukan di dunia ini? Hal-hal apa yang bisa mewakili saya? Pertanyaan wajar dengan jawaban yang tidak bisa dijelaskan adalah interogasi paling umum untuk menentukan dan membentuk manusia,” kata Naufal dikutip dari keterangan persnya, Senin (25/3/2019).


Pameran yang dibuka 19 Maret lalu tersebut merupakan eksibisi tertunda lantaran ‘Art Stage’ Singapura sempat batal digelar Januari lalu. Lukisan-lukisan yang dipajang juga kelanjutan dari pameran solo ‘HAHA’ di Jakarta pada 2018 silam.
Karya-karya dari pria kelahiran 1993 silam ini juga masih bisa dilihat di Art Porters Gallery Singapura pada 19 Maret hingga 21 April 2019.

(Instagram/naufalabshar)
‘HAHA’
Naufal memang mempertanyakan peran tawa dan humor sebagai pembangun atas kritik sosial. Dia kerap menggunakan obyek material sebagai kepala tertawa dengan tulisan-tulisan serta teks nyeleneh di atas kanvas. Frasa tersebut untuk mewakili hal-hal kecil dalam hidup dan menjadi gambaran besar karyanya.
“Pekerjaan saya mengeksplorasi gabungan konsep tawa dan humor, yang bersifat universal bagi budaya manusia.” kata Naufal, dikutip dari laman resmi Art Porters.
Naufal juga tak sembarangan menampilkan kata ‘HAHA’ dalam setiap lukisannya. Ada makna dan pesan tersembunyi yang ingin disampaikan oleh pria kelahiran Bandung tersebut.
“HAHA mewakili tawa dalam berbagai kegiatan, yaitu: tertawa karena kita memenangkan sesuatu, tertawa karena kita mengejek seseorang, tertawa yang disebabkan oleh kegilaan atau bisa juga merupakan penolakan rasa takut,” paparnya.

(Instagram/naufalabshar)
Dalam catatan katalog mininya, Naufal mencoba untuk menempatkan tawa dan humor dalam aktivitas yang berulang dan mengkonstruksi kritik sosial. Kata ‘HAHA’ adalah salah satu penjelajahan Naufal untuk mengejek seseorang, tertawa, bahkan menyindir sesuatu hal yang remeh temeh.


Dia berusaha mendekatkan peristiwa maupun narasi yang selama ini tak terlihat menjadi konkret dalam karyanya.
“Jadi dalam pekerjaan saya, saya mencoba untuk memutar peran tawa atau humor menjadi kegiatan pengulangan yang membangun kritik sosial. Perpanjangan bentuk humor politik dapat ditemukan di sebagian besar karya saya, penggunaan tawa sati menggambarkan bagaimana saya menggunakan tawa sebagai kegiatan yang dapat menyiratkan kritik,” jelas Naufal.


Naufal telah berpartisipasi dalam berbagai pameran kelompok di berbagai tempat seperti Singapura, Yogyakarta, Venesia, dan Lithuania. Pada 2013, dia meraih peringkat pertama dalam kompetisi live painting Indonesia Art Festival.

sumber:wjtoday.com

- Advertisement -

Latest articles

7,350 Followers
Follow

Related articles