Terapi Seni, Baik untuk Jiwa dan Mata di Masa Pandemi

Sejak diberlakukannya kebijakan Work from Home (WFH) dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk memutus rantai penyebaran Covid-19, aktivitas masyarakat banyak dilakukan di rumah. Situasi dan kondisi tersebut lama kelamaan bisa menimbulkan rasa bosan, kesepian, stres, atau bahkan depresi. Namun, hal tersebut sebenarnya bisa dicegah atau dikurangi dengan terapeutik seni.

(pinkKorset.com)

Bahasan ini diangkat Galeri Nasional Indonesia dalam program Bicara Rupa bertema Potensi Terapeutik Seni dalam Proses Kreasi dan Apresiasi di Masa Pandemi Covid-19 yang digelar secara daring pada Miggu (31/05) siang. Program ini dipandu oleh pasangan Dosen Seni Rupa Institut Teknologi Bandung yaitu A. Rikrik Kusmara dan Irma Damajanti. ’’Seni atau the arts adalah ranah disiplin yang luas, yang secara ontologis terbagi dalam dua kegiatan fundamental, yaitu the world of making dan the world of knowing,’’ jelasnya.

The world of making sebagai proses dan kerja kreatif, seni adalah sebuah disiplin penciptaan yang menghasilkan objek atau karya estetik berisi nilai filosofis, sosial, fungsional, dan kultural untuk memperkaya nilai-nilai dan taraf hidup kemanusiaan. Sementara, seni sebagai the world of knowing berkaitan dengan dunia pengetahuan dan praktik kesenian. Bagian ini niscaya melibatkan proses kajian, penelitian, pembelajaran, pengajaran, pengembangan, penyebarluasan, dan pemeliharaan yang ditunjang oleh berbagai bidang seperti filsafat, estetika, ilmu pengetahuan, teknologi, manajemen, etika, maupun hal ihwal keagamaan.

Pasien RSJ dr. Ernaldi Bahar (Palembang) tengah asyik melukis di ruang rehabilitasi

rumah sakit jiwa terbesar di Sumatera Selatan tersebut. (Arya Darmaja for Jawa Pos)

Menurut Irma, proses artistik berpotensi menjadi media komunikasi yang efektif, sekaligus media katarsis untuk melepaskan ketegangan, kecemasan, dan emosi-emosi terpendam dengan cara mengekspresikannya melalui karya seni. ’’Proses katarsis bisa dilakukan melalui dua cara, yaitu secara aktif melalui proses penciptaan karya, dan secara pasif melalui proses apresiasi karya,’’ katanya. Penciptaan karya seni bisa dilakukan dengan banyak hal.

Karya seni dalam terapeutik seni ini sesungguhnya tidak terbatas pada karya seni rupa. Hal serupa juga terkandung seni musik, tari, dan seni lainnya. ’’Seni, selain menjadi semacam jendela untuk melihat ke dalam jiwa, juga memperkaya jiwa, bukan hanya bagi senimannya, tetapi juga bagi apresiatornya,’’ kata Irma.

Sumber: jawapos.com

Latest articles

12.6k Followers
Follow

Related articles