Bukan Hanya di Kertas, Menggambar ternyata Bisa Menggunakan Kulit juga!

JawaPos.com – Jenis media menjadi tantangan saat melukis dengan watercolor atau cat air. Karakter media yang berbeda dapat memberikan pengaruh kuat pada hasil gambar. Ketebalan pori-pori pada media juga berkorelasi dengan daya serap cat air.

Terdengar rumit ya? Karena melukis dengan cat air bisa dilakukan pada beberapa media. Tak cuma kertas dan kanvas. Kulit sapi pun bisa dilukis. Pelukis Thomashanandry memperlihatkan itu saat perayaan ulang tahun ke-3 Revolt Industry di Volks Coffee Selasa (23/5).

Menaklukkan Bahan Kulit, Sebagai Media Lukis Cat Air
BEDA TEKNIK: Menghias media kulit juga bisa dengan pyrography atau dipadukan dengan unsur kayu. Hasilnya pun semakin unik. (Dite Surendra/Jawa Pos/JawaPos.com)

Thomas memilih bahan kulit sapi sebagai media baru untuk menggambar dengan cat air. Tidak semudah seperti media pada umumnya. Tapi, lanjut dia, bahan kulit sapi memberikan tantangan baru. Hal itu disebabkan perbedaan pori-pori antara kertas dan bahan kulit sapi. Kertas memiliki pori-pori lebih kecil dibandingkan dengan bahan kulit sapi. Jadi, goresan cat air lebih mudah tercipta. Sebaliknya, pori-pori besar yang dimiliki media kulit sapi membuat daya resapan cat air meningkat drastis. ’’Serapnya bisa meningkat 2–3 kali lipat dibandingkan pakai kertas,” kata arek Surabaya tersebut.

Bukan gambar yang terbentuk, malah hanya bekas atau bercak-bercak yang tertinggal di permukaan media berbahan kulit sapi. ’’Gambarnya jadi buram dan tidak sebagus kalau pakai kertas,’’ kata pelukis 35 tahun tersebut.

Kendala itu disiasati Thomas dengan beberapa trik. Jadi, gambar dari cat air tetap terlihat sempurna. Sambil mempraktikkannya, Thomas memastikan bahan kulit sapi sudah bersih. ’’Lap sedikit dengan air dan keringkan. Usahakan jangan ada debu,” ujarnya. Setelah itu, dua tangan Thomas sibuk membuat pola.

Kali ini, dia menggambar perempuan berbingkai bunga mawar merah. Pensil digunakan untuk membuat pola tersebut. Ketika sudah selesai, Thomas mulai memoleskan cat air. Saat menggoreskan kuas yang sudah dicelupkan cat air, Thomas menyarankan diberi sedikit tekanan. Jadi, cat air menyerap sempurna.

Selanjutnya, dia melakukan goresan berkali-kali. Pori-pori yang besar tetap dapat tertutupi dengan warna cat air. ’’Memang butuh usaha ekstra, tapi bisa jadi hal menarik ini,” terang Thomas. Keuntungan yang dimaksud Thomas adalah bercak-bercak yang ditinggalkan cat air membentuk gradasi warna, apabila ’’ditata’’ lagi dengan kuas. ’’Kita arahkan saja dengan kuas seperti yang diinginkan. Bisa jadi gradasi yang bagus untuk gambar,” jelasnya.

Thomas memastikan gambar cat air tetap tahan lama. Tidak cepat luntur, asalkan ia dirawat dengan baik. Misalnya, disimpan yang jauh dari paparan sinar matahari secara langsung. ’’Tidak perlu dicuci. Cukup bersihkan dengan kuas,’’ tambahnya.

Sementara itu, Agung Dwi Kurnianto menjelaskan bahwa kulit sapi memang bahan yang unik. Dapat dibentuk menjadi fashion item apa pun. Juga cocok dipadukan dengan bahan lainnya. Selain gambar dengan cat air, bahan kulit sapi dapat dipercantik dengan teknik pyrography, yakni pola gambar yang terbentuk dari alat panas. Selain itu, bahan kulit bisa mix and match dengan kayu. ’’Tampilan jadi nggak membosankan,’’ ujar creative director Revolt Industry tersebut. 

Sumber: jawapos.com

Latest articles

12.6k Followers
Follow

Related articles