Terapkan Komposisi Ini Untuk Membuat Fotografi Anda Lebih Bagus

Smartphone di era sekarang, sudah dilengkapi dengan kamera yang super canggih. Bahkan kamera yang melengkapi berbagai smartphone tersebut, kualitasnya sudah mampu bersaing dengan kamera sungguhan.

Namun pernahkah Anda mengambil foto dari smartphone berkamera canggih Anda, namun Anda tidak puas dengan hasilnya karena tak mirip dengan yang diiklankan? Anda mungkin tidak sendiri. Kenyataannya adalah, fotografi dengan hasil menakjubkan, lebih sulit dari yang kita bayangkan. Kita sering salah kaprah, karena berbagai foto indah yang sering kita lihat di Instagram, lebih kepada bagaimana cara mengambilnya, bukan apa objek yang di ambil.

Sebenarnya teori dalam fotografi smartphone tak akan jauh berbeda dengan yang kita lakukan di kamera yang sesungguhnya. Semua bergantung pada satu hal, yakni komposisi.

Komposisi sendiri bukan sesuatu yang ada tiba-tiba ketika kita akan memotret, namun ada beberapa teori yang perlu dipelajari. Berikut beberapa teori komposisi yang sebenarnya sering digunakan untuk fotografi, namun bisa juga diaplikasikan ke fotografi smartphone. Berikut ulasannya.

‘The Rule of Thirds’

of thirds

sumber : makeusof

Untuk para fotografer, Rule of Thirds adalah teori awal yang dipelajari untuk memahami fotografi. Karena ini adalah dasar, tentu hal ini sangat penting.

Mungkin Anda pernah melakukan hal ini: jika Anda memotret, objek selalu diletakkan di tengah bagaimana pun kondisinya. Hal ini seringkali berhasil, namun terkadang foto justru terlihat biasa saja. Rule of Thirds adalah cara untuk memperindah hal ini.

penerapan 039rule of thirds039
sumber : makeusof
penerapan 039rule of thirds039
sumber : photographymad.com

Bayangkan untuk membagi sebuah gambar menjadi sebuah kisi 3×3, lalu tempatkan objek di titik yang berada di persimpangan ke tiga di tiap sisi.

‘The Golden Ratio’

ratio

sumber : makeusof

Teori ini hampir sama dengan Rule of Thirds, namun sedikit lebih canggih. Teori ini berdasar dari konsep matematika yang bisa kita terapkan di berbagai kondisi, serta sangat menjelaskan mengapa sesuatu yang kita potret menggunakan teori ini lebih menarik secara estetika.

Meski agak rumit secara penjelasan matematis, Golden Ratio menjelaskan hubungan antara ruang yang kosong dan ruang yang terisi dalam sebuah foto. Dalam sebuah gambar yang terisi satu bagian, haruslah ada 1,6 bagian yang kosong untuk membuatnya seimbang. Jika hal ini ditepati, tentu hasil foto akan menakjubkan, meski dengan objek apapun.

penerapan 039golden ratio039
sumber : twitter.com / @hughesroland

Salah satunya adalah foto jurnalistik dari media Inggris di atas, yang meski objeknya biasa saja, komposisinya membuat foto ini lebih ‘hidup.’

‘Leading lines’

sumber : makeusof

Hal paling mudah untuk menarik mata dari penikmat foto yang kita potret, adalah memberi mereka sebuah garis yang secara langsung memperlihatkan arah. Hal ini biasa disebut ‘leading lines’ dalam dunia fotografi. Sebuah garis ini bisa apapun, jalanan, pagar, ranting pohon, tembok, kontur alami, bahkan sebuah siluet. garis ini juga tak perlu nyata, terkadang jika sudah ahli, sebuah garis tersirat bahkan bisa menyihir mata penikmat foto.

leading lines
sumber : makeusof

Sebuah bentuk, arah, dan kedalaman yang dibentuk oleh garis tersebut, dapat membuat efek ‘dinamis’ pada foto. Foto yang Anda potret tak akan terlihat statis dan membosankan, dan mampu memberi perbedaan foto yang biasa-biasa saja dan yang luar biasa.

‘Foreground dan Background’

background

sumber : makeusof

Salah satu kesulitan dalam fotografi adalah menangkap keindahan yang ada secara tiga dimensi, menjadi sebuah foto yang formatnya dua dimensi. Tak jarang hasilnya hanya datar dan statis, yang sama sekali tidak ‘menghidupkan’ objek yang seharusnya jadi tujuan fotografi.

Karena itulah kita bisa menggunakan metode foreground dan background, yang secara simpel dapat membuat otak kita membayangkan keadaan asli sebuah foto.

Dari gambar di atas, bisa kita lihat bahwa kombinasi gambar pohon dan gunung, membuat kita bisa membayangkan kalau pohon tersebut terasa dekat, dan gunung terasa jauh. Hal ini juga memberi otak kita perbandingan. Karena jika tak ada pohon, kita tak akan tahu sebesar apa gunung tersebut, dan sebaliknya.

foreground dan background
sumber : makeusof

Gambar ini pun juga menggunakan teknik foreground dan background untuk memperjelas objek yang akan kita tangkap. Dengan laptop sebagai foregound dan kamera SLR sebagai background yang blur, objek tangan dan pena akan makin jadi emphasis dalam foto tersebut. Biasanya digunakan lensa dengan bukaan besar atau pencahayaan yang baik, untuk mendapat foto dengan ‘depth of field’ semacam ini.

sumber : merdeka.com

Latest articles

12.6k Followers
Follow

Related articles